Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Dialog Diri: “Penulis”

Sekitar 5 tahun yang lalu aku berkomunikasi melalui chat dengan seorang motivator yang sudah menghasilkan karya berupa buku. Meski belum membacanya, mengetahui bagaimana sepak terjang perjuangan hidupnya, aku merasa itu buku yang menarik. Sayang sekali aku tidak membeli bukunya. Membahas karya berupa buku, ada pertanyaan yang membuatku menulis Dialog diri: “Penulis” yakni, “Bagaimana menjadi seorang penulis? Bagaimana survive sebagai seorang penulis?” Mari diawali dari pertanyaan bagaimana menjadi seorang penulis. Ketika bertanya seperti itu, tidak mengherankan jika jawabannya adalah menulis. Bahkan dialog diri ini yang entah akan berujung seperti apa, diniatkan oleh diri sendiri sebagai ajang berlatih menulis. Nah, motivator yang pernah kutanyai, menjawab yang sama. “Kita perlu berusaha untuk menggapai segala sesuatu. Mau jadi penulis? Ya, menulis, menulis, dan menulis.” Selalu kuingat juga, dibutuhkan banyak membaca. Berupa peristiwa yang terjadi, suatu karya, dan diri sendiri...

Cerpen: "Kupu-Kupu yang Rindu"

Suatu hari ada seekor hewan yang menyandarkan dirinya di bawah pohon yang rindang. Ia berdialog seorang diri tanpa sedikit pun menengok ke arah lain. “Aku tidak ingin menjauhkan diri, tapi hati serta pikiranku butuh ketenangan.” “Ayah… Ibu… Tidakkah kalian lihat bagaimana kondisi sayapku saat ini? Tidakkah keberadaanku di antara kalian benar-benar berarti?” keluhnya. Tidak lama kemudian terdengar suara dari arah atas pohon tempatnya bersandar. Rupanya ada seekor kupu-kupu coklat di sana. “Bolehkah aku menghampirimu? Tanyanya kepada kupu-kupu hijau. “Boleh, silakan turun,” reaksinya menyetujui. “Apa kamu baik-baik saja?” “Aku? Tidak apa-apa,” jawabnya tanpa mampu menyembunyikan ekspresi sedihnya. “Baiklah, anggaplah aku berada di sini untukmu, kawan. Perkenalkan, aku biasa dipanggil kupu-kupu coklat bintik 3. Kamu boleh banget panggil aku dengan nama panggilan apa pun. Oh, ya. Aku masih penasaran, apa gerangan yang membuatmu bersedih sehingga duduk sendirian di sini?” ...

Buku: "From No- Talk to Talkaktive"

Judul:      From No-Talk to Talkaktive (Panduan dan Strategi Belajar Berbicara dalam Bahasa Inggris untuk Pemula) Penulis:    Bertimuliadi Penerbit: Grasindo Terbit:      2012 Tebal:      166 halaman Bahasa Inggris adalah bahasa utama yang digunakan masyarakat global dalam berbagai kepentingan. Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat menghadapi masalah yang cukup serius dalam mempelajari bahasa asing. Akhirnya, ada yang membenci, alergi, muak, dan menyerah untuk mempelajarinya.  Buku From No-Talk to Talkaktive (Panduan dan Strategi Belajar Berbicara dalam Bahasa Inggris untuk Pemula) hadir untuk membalikkan semua pandangan itu.     Resensi Buku Metode pembelajaran dalam buku ini telah disusun ke dalam beberapa tahap yang diatur sedemikian rupa. Agar proses pembelajaran optimal bisa dicapai, sangat disarankan kepada pembaca agar tidak melanjutkan ke tahap berikutnya apabila pada tahap sebelumnya belum t...

Dialog Diri: "Bullying"

Seperti kita ketahui, bullying bisa terjadi di mana saja. Di lingkungan tempat tinggal, sekolah atau pun tempat umum. Dialog diri ini adalah memori tentang pengalamanku yang pernah terkena bully . Sebagai murid baru untuk kesekian kalinya serta tidak kenal siapa-siapa, aku mendapati lagi situasi itu. Ya, canggung yang luar biasa. Hari pertama  di ruang kelas saat perkenalan diri, ada  satu murid laki-laki meneriaki bagaimana bentuk gigiku. “Eh, itu liat giginya kayak hewan apa itu, ya.” Marmut! Kelinci! Sejak saat itulah aku dipanggil dengan sebutan “Cicit” oleh teman-teman. Bentuk gigi yang tidak terpikirkan untuk diubah karena tidak memiliki dampak buruk apa pun bagi tubuh, membuatku menerima nama panggilan itu. Tanpa sadar diriku memendam pertanyaan dan pikiran yang bingung, “Emang salah, ya, punya gigi seperti ini?” Sejujurnya butuh waktu serta upaya untuk berdamai dengan fisik yang sudah ada sejak dilahirkan, dikarenakan khawatir akan pandangan orang. Ke mana pun p...

Akun Instagram Inspiratif untuk Mengenal Diri

Beragam peristiwa sudah aku alami di usia dewasa muda. Kegagalan, pertanyaan yang terkadang ‘menyentuh’ ranah privasi, kegalauan masa lalu, dan kecemasan akan masa depan. Sebagai orang yang mudah mendapatkan akses media sosial, ada akun-akun Instagram berikut ini yang membantuku untuk mengenal diri sendiri serta memberikan sudut pandang baru tentang kehidupan. Perempuan Berkisah Tidak tahu sejak kapan aku menjadi follower akun @perempuanberkisah.id di Instagram, yang jelas menjadi follower -nya adalah sesuatu yang patut aku syukuri. Kenalan dulu sama komunitas ini, yuk! Seperti namanya, kita akan mendapati postingan yang berisikan berbagai kisah para perempuan. Pengirim kisah disebut sebagai sender. Untuk menjaga privasi dan tentunya sebagai ruang aman perempuan, identitas sender tidak dipublikasikan. Karena merasa kehadiran komunitas ini memiliki visi dan misi yang sesuai dengan prinsip hidupku,   sehingga aku terbiasa membaca tuntas kisah yang diposting, respon konselor ...

Dialog Diri: "Tujuan Hidup"

Sering kali aku menanyakan kepada diri sendiri, “Apa tujuan hidupku?” Tidak sampai disitu saja, pada waktu tertentu, aku juga bertanya kepada ibu mengenai tujuannya menikah, tujuan hidupnya saat masih lajang, dan bagaimana pengalaman ketika melahirkan anak. Ketika pertanyaanku dirasa kurang tepat dengan kondisi ibu, ada saja jawaban, “Waduh, berat nih kamu nanyanya.” Ya, ibu kemungkinan tahu bahwa anaknya ini sedang di fase mencari jati diri. Seperti kataku,perjalanan diriku rasanya lebih lambat daripada kawan-kawan lainnya. Yang saat ini sudah meniti jalan kehidupan dengan lebih baik. (Mulai deh, aku membandingkan diri dengan yang lainnya) Sudut Pandang Sesekali ketika diri sedang down , aku lantas mencari bacaan mengenai perspektif orang-orang tentang kehidupan. Menemukan tujuan serta perjalanan hidup yang beragam. Ada yang memiliki tujuan hidup ingin berlibur ke suatu negara, menghasilkan karya, meraih cita-cita, membahagiakan orang tua, dan menjadi makhluk ciptaan yang senant...

Dialog Diri: “Kekhawatiran”

“Kekhawatiran itu seperti kursi goyang.  Dia memberi kita kesibukan, tetapi tidak membawa kita ke mana-mana!” (Unknown) Sekali membaca kalimat tersebut membuatku mengatakan, “Iya, bagiku itu benar. Kenapa baru tahu sekarang?” Keadaan pandemi saat ini semakin gawat. Tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari jalan raya menjadikan sirine ambulans terdengar jelas berlalu lalang. Mengibaratkan kekhawatiran dengan kursi goyang yang entah dari mana dan siapa pencetus analogi tersebut, sebuah perumpamaan yang dapat dipahami bagiku. Kekhawatiran tanpa tindakan, membuat pikiran rumit. Tindakan tanpa mempertimbangkan, sering kali membuatku menyesal dan menyalahkan diri begitu dalam. Perlu keduanya, kekhawatiran untuk kemudian bertindak. “Aku khawatir orang rumah kenapa-kenapa. Oleh karena itu, aku menjaga kesehatan dan tiap anggota keluarga saling berbagi informasi tentang apa yang sedang diketahui. Tujuannya agar sama-sama menjaga kesehatan.” Segala kekhawatiran akan membebani jika...

Cerpen: "Waktu Untuk Pulih"

Terkurung dalam benak diri sendiri terasa sangat menyiksa. Tidak tahu bagaimana menerima kritikan dan   saran membangun yang diberikan oleh orang lain. Seakan jika terdengar suara yang menyampaikan sesuatu, tak ada bedanya dengan tujuan untuk menyerang. Cerpen: “Waktu untuk pulih” berasal dari bayangan yang berkecamuk. Saat itu dalam kegiatan berlibur ke sebuah pantai, aku merasakan sesuatu yang membuatku langsung menuliskannya pada sebuah buku bacaan. Ya, hanya ada buku tersebut yang ada di dalam tas yang aku gunakan. Sudah siap menyelami bayangan tersebut? Baiklah, jika memang mempunyai keinginan untuk membacanya. [ Waktu Untuk Pulih ] Dari ketinggian tertentu di hadapan lautan luas dengan deburan ombak yang terdengar, aku membayangkan seseorang hendak melompat dengan tekad bulat. Namun, ia mengurungkan niat karena adanya suara di benaknya yang bertanya, “Hanya sampai ini saja perjuanganmu? Jika jawabanmu adalah, iya, sungguh apakah kamu tidak melihat karang yang dihan...

Sajak: "Pada Saatnya Nanti"

Pada saatnya nanti, dunia yang nampak gelap menjadi bersinar terang. Pada saatnya nanti, asa yang hilang sebagai cambuk untuk hidup. Pada saatnya nanti, rasa sakit akan terobati. Pada saatnya nanti, kebencian reda perlahan. Pada saatnya nanti, diri temukan kunci kedamaian. Pada saatnya nanti, air mata wujud rasa syukur atas karunia-Nya. (04 Juli 2021 )

Dialog Diri: "Menerima yang Terjadi"

Berselang 3 bulan handphone terjatuh yang menyebabkan layarnya retak. Dengan cara tertentu, saat itu alat komunikasi tersebut masih bisa berfungsi. Kini tidak dapat menyala lagi. Aku merasakan sedih karena telepon genggam tersebut memiliki kenangan suka dan duka. Ada beragam dokumentasi, file, aplikasi untuk berkomunikasi, dan hal-hal penting lainnya. Tapi untungnya beberapa data memang sudah lama dipindah. Memang masih ada yang dapat disyukuri saat mengalami kejadian buruk? Dari rusaknya handphone , aku berpendapat, “Iya.” Saat tahu rusaknya tidak bisa kuperbaiki sendiri dan mempertimbangkan usia penggunaannya terhitung sudah lama, aku menerima bahwa kondisinya tidak baik. Aku menerima jika memang tidak dapat menjalankan fungsinya lagi. Pada akhirnya, aku menerima ketika tidak dapat menggunakannya untuk menjalani hari-hari. Aku bersikap tenang walaupun tahu belum ada gantinya. Tetapi saat ini yang lebih aku butuhkan adalah alat untuk mengetik tulisanku, untuk berkarya tanpa...

Dialog Diri: "Menangislah"

Kau tahu? Pada akhirnya ketika tidak ada kata yang dapat diucapkan serta dituliskan, air mata yang mampu jujur kepada dunia. Aku menjadi penasaran, dari mana air mata berasal? Mengapa ada, tapi kerap tidak kusadari? Baru kemarin adikku bertengkar dengan temannya, pulang dengan tangisan dan amarah yang menggebu. Aku sudah paham dengan cara bicaranya ketika sedang kesal, lantas aku meminta dirinya untuk menenangkan diri. “Kalau masih mau nangis, teruskan. Bicaranya nanti saja ketika sudah tenang.” Entah mengapa kalimat tersebut terucap begitu saja. Aku tertegun, menyadari bahwa nampaknya responku terhadap hal-hal yang di luar kendali mulai ada perkembangan. Biasanya aku langsung membela adikku karena sering menasehatinya untuk tidak berkelakuan buruk. Aku teramat yakin kalau ia tidak akan menjadi anak laki-laki yang nakal. Tapi pada dasarnya dirinya tidak ada digenggamanku 1 x 24 jam. Ke mana dan di mana pun, ia bertanggung jawab terhadap pikiran, perasaan, dan perilakunya sendiri....

Dialog Diri: "Mempertanyakan"

Usia 20-an awal menjadi usia di mana aku mulai mempertanyakan segala hal. Mungkin prosesku lebih lambat daripada yang lainnya, akan tetapi aku bersyukur karena perlahan-lahan mendapatkan jawaban. Teman yang paling dekat dari segi emosional denganku, pernah berkata, “Proses pendewasaan diri tiap-tiap orang berbeda.” Ya. Proses pendewasaan diriku terjadi melalui pengamatan lingkungan sekitar, apa yang terjadi di hidupku, kegiatan apa yang diikuti, dan dari buku-buku yang aku baca. “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.” Membahas tua dan dewasa, ada satu pertanyaan yang marak yang diposting di media sosial yakni, “Usia 25 tahun sudah punya apa?” Tahun ini usiaku mendekati pertengahan 20-an, membuatku ikut bimbang ketika membaca postingan tersebut. Namun, ketika aku mencoba mengenal diriku, di antaranya mengenai apa saja yang sudah dilalui? Lalu bagaimana aku bisa melaluinya? Itu membuatku melonggarkan ikatan yang kerap membuat tubuh sesak. “Aku tidak sedang berlomba...