Suatu hari ada seekor hewan yang menyandarkan dirinya di bawah pohon yang rindang. Ia berdialog seorang diri tanpa sedikit pun menengok ke arah lain.
“Aku tidak ingin menjauhkan diri, tapi hati serta pikiranku butuh ketenangan.”
“Ayah… Ibu… Tidakkah kalian lihat bagaimana kondisi sayapku saat ini? Tidakkah keberadaanku di antara kalian benar-benar berarti?” keluhnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara dari arah atas pohon tempatnya bersandar. Rupanya ada seekor kupu-kupu coklat di sana.
“Bolehkah aku menghampirimu? Tanyanya kepada kupu-kupu hijau.
“Boleh, silakan turun,” reaksinya menyetujui.
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku? Tidak apa-apa,” jawabnya tanpa mampu menyembunyikan ekspresi sedihnya.
“Baiklah, anggaplah aku berada di sini untukmu, kawan. Perkenalkan, aku biasa dipanggil kupu-kupu coklat bintik 3. Kamu boleh banget panggil aku dengan nama panggilan apa pun. Oh, ya. Aku masih penasaran, apa gerangan yang membuatmu bersedih sehingga duduk sendirian di sini?”
Percakapan pun berlanjut. Mereka berdua tampak seperti sudah berteman sejak lama. Karena tidak ada gelagat mencurigakan, kupu-kupu hijau akhirnya bercerita secara singkat mengenai dirinya yang sedang gundah.
“Oh, begitu. Aku turut prihatin atas apa yang terjadi. Boleh kukatakan pendapatku?”
“Tentu.”
“Aku paham, tidak mudah menjadi dirimu. Sebagai seorang anak, kamu juga butuh didengar, dimengerti, dan diberikan kesempatan untuk bersuara.”
“Iya, aku sadar mengenai itu,” kupu-kupu hijau mengangguk.
“Tapi karena kamu tidak ingin membuat kondisi menjadi lebih buruk karena memang sudah dilarang untuk ikut campur, kamu lebih memilih menerima segala pertengkaran mereka. Sekali pun itu terjadi di hadapanmu, di saat kamu butuh ketenangan, dan bahkan di setiap sudut tempat tinggal kalian.”
Kupu-kupu hijau meneteskan air mata yang sempat tertahan. Entah sudah berapa lama.
“Aku melihat luka ketika kamu menoleh, ada apa dengan sayapmu itu?” Tanya kupu-kupu coklat.
“Luka ini aku dapat ketika mencoba memisahkan kedua orangtua yang sedang bertengkar.”
“Melihat lukamu yang belum juga sembuh, mau kamu bawa ke mana barang bawaan ini?” menunjuk barang-barang milik lawan bicaranya.
“Aku hendak mencoba pergi. Barangkali kepergianku dari rumah, membuat mereka bertengkar tanpa terbebani adanya diriku. Mereka bisa bebas meributkan apa saja.”
“Apa pun pilihanmu, cobalah pikirkan dampaknya. Mungkin pikiranmu bisa tenang, akan tetapi bagaimana dengan hatimu yang begitu menyanyangi orangtua? Apakah kamu sudah siap dengan konsekuensinya?”
Beberapa menit kemudian, kupu-kupu hijau dan kupu-kupu coklat hanya menundukkan wajah. Mereka rindu akan keluarga masing-masing.
“Disaat gundah, ucapanmu tidak sama sekali terpikirkan olehku. Terima kasih, ya! Aku akan merenungkan kembali mengenai tindakanku selanjutnya.”
“Sama-sama. Senang melihatmu dapat tersenyum manis seperti itu.”
Komentar