Langsung ke konten utama

Cerpen: "Kupu-Kupu yang Rindu"

Suatu hari ada seekor hewan yang menyandarkan dirinya di bawah pohon yang rindang. Ia berdialog seorang diri tanpa sedikit pun menengok ke arah lain.

“Aku tidak ingin menjauhkan diri, tapi hati serta pikiranku butuh ketenangan.”

“Ayah… Ibu… Tidakkah kalian lihat bagaimana kondisi sayapku saat ini? Tidakkah keberadaanku di antara kalian benar-benar berarti?” keluhnya.

Tidak lama kemudian terdengar suara dari arah atas pohon tempatnya bersandar. Rupanya ada seekor kupu-kupu coklat di sana.

“Bolehkah aku menghampirimu? Tanyanya kepada kupu-kupu hijau.

“Boleh, silakan turun,” reaksinya menyetujui.

“Apa kamu baik-baik saja?”

“Aku? Tidak apa-apa,” jawabnya tanpa mampu menyembunyikan ekspresi sedihnya.

“Baiklah, anggaplah aku berada di sini untukmu, kawan. Perkenalkan, aku biasa dipanggil kupu-kupu coklat bintik 3. Kamu boleh banget panggil aku dengan nama panggilan apa pun. Oh, ya. Aku masih penasaran, apa gerangan yang membuatmu bersedih sehingga duduk sendirian di sini?”

Percakapan pun berlanjut. Mereka berdua tampak seperti sudah berteman sejak lama. Karena tidak ada gelagat mencurigakan, kupu-kupu hijau akhirnya bercerita secara singkat mengenai dirinya yang sedang gundah.

“Oh, begitu. Aku turut prihatin atas apa yang terjadi. Boleh kukatakan pendapatku?”

“Tentu.”

“Aku paham, tidak mudah menjadi dirimu. Sebagai seorang anak, kamu juga butuh didengar, dimengerti, dan diberikan kesempatan untuk bersuara.”

“Iya, aku sadar mengenai itu,” kupu-kupu hijau mengangguk.

“Tapi karena kamu tidak ingin membuat kondisi menjadi lebih buruk karena memang sudah dilarang untuk ikut campur, kamu lebih memilih menerima segala pertengkaran mereka. Sekali pun itu terjadi di hadapanmu, di saat kamu butuh ketenangan, dan bahkan di setiap sudut tempat tinggal kalian.”

Kupu-kupu hijau meneteskan air mata yang sempat tertahan. Entah sudah berapa lama.

“Aku melihat luka ketika kamu menoleh, ada apa dengan sayapmu itu?” Tanya kupu-kupu coklat.

“Luka ini aku dapat ketika mencoba memisahkan kedua orangtua yang sedang bertengkar.”

“Melihat lukamu yang belum juga sembuh, mau kamu bawa ke mana barang bawaan ini?” menunjuk barang-barang milik lawan bicaranya.

“Aku hendak mencoba pergi. Barangkali kepergianku dari rumah, membuat mereka bertengkar tanpa terbebani adanya diriku. Mereka bisa bebas meributkan apa saja.”

“Apa pun pilihanmu, cobalah pikirkan dampaknya. Mungkin pikiranmu bisa tenang, akan tetapi bagaimana dengan hatimu yang begitu menyanyangi orangtua? Apakah kamu sudah siap dengan konsekuensinya?”

Beberapa menit kemudian, kupu-kupu hijau dan kupu-kupu coklat hanya menundukkan wajah. Mereka  rindu akan keluarga masing-masing.

“Disaat gundah, ucapanmu tidak sama sekali terpikirkan olehku. Terima kasih, ya! Aku akan merenungkan kembali mengenai tindakanku selanjutnya.”

“Sama-sama. Senang melihatmu dapat tersenyum manis seperti itu.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...