Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Menerima yang Terjadi"

Berselang 3 bulan handphone terjatuh yang menyebabkan layarnya retak. Dengan cara tertentu, saat itu alat komunikasi tersebut masih bisa berfungsi. Kini tidak dapat menyala lagi.

Aku merasakan sedih karena telepon genggam tersebut memiliki kenangan suka dan duka. Ada beragam dokumentasi, file, aplikasi untuk berkomunikasi, dan hal-hal penting lainnya. Tapi untungnya beberapa data memang sudah lama dipindah.

Memang masih ada yang dapat disyukuri saat mengalami kejadian buruk? Dari rusaknya handphone, aku berpendapat, “Iya.”

Saat tahu rusaknya tidak bisa kuperbaiki sendiri dan mempertimbangkan usia penggunaannya terhitung sudah lama, aku menerima bahwa kondisinya tidak baik. Aku menerima jika memang tidak dapat menjalankan fungsinya lagi. Pada akhirnya, aku menerima ketika tidak dapat menggunakannya untuk menjalani hari-hari.

Aku bersikap tenang walaupun tahu belum ada gantinya. Tetapi saat ini yang lebih aku butuhkan adalah alat untuk mengetik tulisanku, untuk berkarya tanpa terganggu notifikasi. Mungkin ke depannya banyak yang bisa kupelajari kejadian ini.

“Untuk saat ini pelajaran penting apa yang disampaikan padaku melalui rusaknya handphone?”

Jeda.

Sabar.

Rutin memeriksa diri.

Ketika mengingat-ingat, handphone tersebut tidak rusak begitu saja. Ada prosesnya, ada ceritanya. Aku menggunakannya setiap hari, tidak memeriksa berapa banyak memori yang terpakai dan berapa yang tersisa.

Aku  yang memang terlampau sering bermain media sosial, akhirnya mendapati batasan. Akhirnya memiliki jeda. Menjadi lebih santai, tidak dikejar-kejar pikiran diri sendiri untuk mengetahui beragam informasi. 

Saat ini aku belajar memperbaiki diriku. Bagaimana caraku menggunakan sesuatu, bagaimana caraku berperilaku, bagaimana caraku berpikir, bagaimana caraku merasa, dan bagaimana caraku berbicara.

Belajar menerima, banyak yang tidak dalam kendaliku. Termasuk rusaknya handphone walaupun itu yang biasa aku gunakan.

Baru satu hari sejak terjadinya. Manfaat memberi jeda sudah terasa. Aku tidak sepenuhnya berhenti mengakses media sosial karena banyak informasi tentang kepenulisan yang tersedia di sana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...