Langsung ke konten utama

Dialog Diri: “Kekhawatiran”

“Kekhawatiran itu seperti kursi goyang. 

Dia memberi kita kesibukan, tetapi tidak membawa kita ke mana-mana!” (Unknown)

Sekali membaca kalimat tersebut membuatku mengatakan, “Iya, bagiku itu benar. Kenapa baru tahu sekarang?” Keadaan pandemi saat ini semakin gawat. Tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari jalan raya menjadikan sirine ambulans terdengar jelas berlalu lalang.

Mengibaratkan kekhawatiran dengan kursi goyang yang entah dari mana dan siapa pencetus analogi tersebut, sebuah perumpamaan yang dapat dipahami bagiku. Kekhawatiran tanpa tindakan, membuat pikiran rumit. Tindakan tanpa mempertimbangkan, sering kali membuatku menyesal dan menyalahkan diri begitu dalam. Perlu keduanya, kekhawatiran untuk kemudian bertindak.

“Aku khawatir orang rumah kenapa-kenapa. Oleh karena itu, aku menjaga kesehatan dan tiap anggota keluarga saling berbagi informasi tentang apa yang sedang diketahui. Tujuannya agar sama-sama menjaga kesehatan.”

Segala kekhawatiran akan membebani jika tidak disikapi dengan bijak. Segala kekhawatiran akan menjadi beban tersendiri ketika tidak mau mencari jalan ke dalam. Ya, belum lama ini aku juga mencoba mencari ke dalam diriku. “Kekhawatiran apa yang ada dibenakku? Apakah kekhawatiran akan memengaruhi aktivitasku? Lalu bagaimana caraku menyikapinya?”

Kabar tetangga yang satu per satu pernah maupun yang sedang terpapar virus tersebut dengan hasil test PCR yang tertera keterangan positif, turut melatih diriku untuk tenang. Terkadang aku berpikir, ketika semakin banyak yang mengalami, “Bagaimana keadaan supir ambulans serta tenaga kesehatan yang pada malam hari pun masih bertugas?”

Sedangkan aku masih bisa beraktivitas di rumah dengan teratur. Betapa pikiranku setiap hari berharap agar mereka, tenaga medis, bisa beristirahat ketika lelah dan pulang ke rumah dengan keadaan sehat. Dan pasien yang dirawat bisa segera pulih. Aamiin.

Bagi yang mengalami duka karena berpulangnya anggota keluarga, saudara, sahabat, teman, dan lain-lainnya, semoga kuat dan dapat terus melanjutkan hidup. Seberat apa pun keadaan yang sedang dihadapi. Aamiin.

Terima kasih diriku yang sudah menulis Dialog Diri kali ini. Mari kita hadapi kekhawatiran dengan terus belajar mengenal diri sendiri. Ingat, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di Pulau Jawa-Bali masih berlangsung hingga tanggal 20 Juli 2021. Jaga kesehatan, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...