Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Menangislah"

Kau tahu? Pada akhirnya ketika tidak ada kata yang dapat diucapkan serta dituliskan, air mata yang mampu jujur kepada dunia. Aku menjadi penasaran, dari mana air mata berasal? Mengapa ada, tapi kerap tidak kusadari?

Baru kemarin adikku bertengkar dengan temannya, pulang dengan tangisan dan amarah yang menggebu. Aku sudah paham dengan cara bicaranya ketika sedang kesal, lantas aku meminta dirinya untuk menenangkan diri. “Kalau masih mau nangis, teruskan. Bicaranya nanti saja ketika sudah tenang.”

Entah mengapa kalimat tersebut terucap begitu saja. Aku tertegun, menyadari bahwa nampaknya responku terhadap hal-hal yang di luar kendali mulai ada perkembangan. Biasanya aku langsung membela adikku karena sering menasehatinya untuk tidak berkelakuan buruk. Aku teramat yakin kalau ia tidak akan menjadi anak laki-laki yang nakal.

Tapi pada dasarnya dirinya tidak ada digenggamanku 1 x 24 jam. Ke mana dan di mana pun, ia bertanggung jawab terhadap pikiran, perasaan, dan perilakunya sendiri.

Sebagai seorang anak, 1 tahun belakangan ini aku baru belajar berperan sebagai penasihat di kala ibu sedang membutuhkan saran serta teman bercerita. Sebagai kakak manakala adik-adik membutuhkanku. Sebagai masyarakat yang mencoba berkontribusi dalam hal-hal kecil. Tak jarang terkadang aku merasa tidak berguna ketika menghadapi ekspektasiku sendiri.

Seperti kataku di paragraf awal, pada akhirnya tangisan yang membawaku pada kejujuran. Tangisan tidak membohongi diri ketika sudah teramat lelah.  Tangisan tidak membohongi diri ketika merasakan haru tiada tara.

Siapa pun kamu. Perempuan maupun laki-laki, menangislah jika itu membuat diri lega. Tumpahkanlah perasaan yang ada pada tangisan tersebut. Menyadari bahwa kita merasakannya serta memberikan diri waktu tanpa menghakimi. Segala rasa sakit, kesedihan, luka, kekecewaan, bahagia, senang, dan lain-lainnya.

Jika aku ditanya pada saat ini, “Apa hal yang teramat kamu syukuri?” 

Jawabanku adalah air mata. Begitu indahnya Tuhan menciptakan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...