Kau tahu? Pada akhirnya ketika tidak ada kata yang dapat diucapkan serta dituliskan, air mata yang mampu jujur kepada dunia. Aku menjadi penasaran, dari mana air mata berasal? Mengapa ada, tapi kerap tidak kusadari?
Baru kemarin
adikku bertengkar dengan temannya, pulang dengan tangisan dan amarah yang
menggebu. Aku sudah paham dengan cara bicaranya ketika sedang kesal, lantas aku
meminta dirinya untuk menenangkan diri. “Kalau masih mau nangis, teruskan.
Bicaranya nanti saja ketika sudah tenang.”
Entah mengapa
kalimat tersebut terucap begitu saja. Aku tertegun, menyadari bahwa nampaknya
responku terhadap hal-hal yang di luar kendali mulai ada perkembangan. Biasanya aku langsung membela adikku karena
sering menasehatinya untuk tidak berkelakuan buruk. Aku teramat yakin kalau ia
tidak akan menjadi anak laki-laki yang nakal.
Tapi pada
dasarnya dirinya tidak ada digenggamanku 1 x 24 jam. Ke mana dan di mana pun,
ia bertanggung jawab terhadap pikiran, perasaan, dan perilakunya sendiri.
Sebagai seorang
anak, 1 tahun belakangan ini aku baru belajar berperan sebagai penasihat di kala ibu
sedang membutuhkan saran serta teman bercerita. Sebagai kakak manakala
adik-adik membutuhkanku. Sebagai masyarakat yang mencoba berkontribusi dalam
hal-hal kecil. Tak jarang terkadang aku merasa tidak berguna ketika menghadapi ekspektasiku
sendiri.
Seperti
kataku di paragraf awal, pada akhirnya tangisan yang membawaku pada kejujuran.
Tangisan tidak membohongi diri ketika sudah teramat lelah. Tangisan tidak membohongi diri ketika merasakan haru
tiada tara.
Siapa pun
kamu. Perempuan maupun laki-laki, menangislah jika itu membuat diri lega.
Tumpahkanlah perasaan yang ada pada tangisan tersebut. Menyadari bahwa kita
merasakannya serta memberikan diri waktu tanpa menghakimi. Segala rasa sakit,
kesedihan, luka, kekecewaan, bahagia, senang, dan lain-lainnya.
Jika aku ditanya pada saat ini, “Apa hal yang teramat kamu syukuri?”
Jawabanku adalah air mata. Begitu indahnya Tuhan menciptakan manusia.
Komentar