Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Mempertanyakan"


Usia 20-an awal menjadi usia di mana aku mulai mempertanyakan segala hal. Mungkin prosesku lebih lambat daripada yang lainnya, akan tetapi aku bersyukur karena perlahan-lahan mendapatkan jawaban.

Teman yang paling dekat dari segi emosional denganku, pernah berkata, “Proses pendewasaan diri tiap-tiap orang berbeda.”

Ya. Proses pendewasaan diriku terjadi melalui pengamatan lingkungan sekitar, apa yang terjadi di hidupku, kegiatan apa yang diikuti, dan dari buku-buku yang aku baca.

“Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.” Membahas tua dan dewasa, ada satu pertanyaan yang marak yang diposting di media sosial yakni, “Usia 25 tahun sudah punya apa?”

Tahun ini usiaku mendekati pertengahan 20-an, membuatku ikut bimbang ketika membaca postingan tersebut. Namun, ketika aku mencoba mengenal diriku, di antaranya mengenai apa saja yang sudah dilalui? Lalu bagaimana aku bisa melaluinya? Itu membuatku melonggarkan ikatan yang kerap membuat tubuh sesak.

“Aku tidak sedang berlomba-lomba dengan yang lainnya. Aku sedang berproses menjadi versi terbaik bagi diriku dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelum-sebelumnya.”

Dalam hidupku, ada beberapa pertanyaan yang terucap manakala sesuatu terjadi.

“Apa aku berguna? Untuk apa aku hidup? Kenapa peristiwa-peristiwa tersebut terjadi padaku? Akan seperti apa aku nanti? Apa itu cinta? Kenapa di dunia ini ada orang jahat?”

Seperti pada artikel Dialog Diri yang membahas mengenai buku “Healing and Recovery” karya David R. Hawkins, aku sedikit mencantumkan tentang cinta. Bagiku, membahasnya begitu rumit, ada banyak definisi cinta yang didasari dari latar belakang tertentu. Aku pikir begitu juga dengan definisi orang jahat.

Aku jadi mempertanyakan, “Apa perbedaan diriku dengan anak kecil yang polos?” Yang memandang bahwa dunia diisi oleh orang-orang baik. Sehingga kerap terdengar kejadian buruk yang menimpa anak-anak.

Aku rasa memang mainku kurang jauh, belajarku masih sebatas tahu. Belum mencoba untuk mendalami hingga akhirnya paham mengapa aku ada, mengapa peristiwa itu terjadi, tidak begitu mencemaskan yang belum terjadi, merasakan cinta yang sesungguhnya tanpa manipulasi diri, dan sadar bahwa tidak semua orang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...