Sekitar 5 tahun yang lalu aku berkomunikasi melalui chat dengan seorang motivator yang sudah menghasilkan karya berupa buku. Meski belum membacanya, mengetahui bagaimana sepak terjang perjuangan hidupnya, aku merasa itu buku yang menarik. Sayang sekali aku tidak membeli bukunya.
Membahas karya berupa buku, ada pertanyaan yang membuatku menulis Dialog diri: “Penulis” yakni, “Bagaimana menjadi seorang penulis? Bagaimana survive sebagai seorang penulis?”
Mari diawali dari pertanyaan bagaimana menjadi seorang penulis. Ketika bertanya seperti itu, tidak mengherankan jika jawabannya adalah menulis. Bahkan dialog diri ini yang entah akan berujung seperti apa, diniatkan oleh diri sendiri sebagai ajang berlatih menulis. Nah, motivator yang pernah kutanyai, menjawab yang sama. “Kita perlu berusaha untuk menggapai segala sesuatu. Mau jadi penulis? Ya, menulis, menulis, dan menulis.”
Selalu kuingat juga, dibutuhkan banyak membaca. Berupa peristiwa yang terjadi, suatu karya, dan diri sendiri. Tentu pernah minimal sekali dalam hidup membaca karya yang bersumber dari kisah nyata? Itulah yang aku maksud membaca diri sendiri. Pengalaman hidup bisa dijadikan karya.
Yang kutahu dalam kepenulisan, ada karya kategori fiksi dan nonfiksi. Ada beragam kisah perjalanan menjadi seorang penulis. Saat ini aku meyakini bahwa seburuk apa pun diriku, aku punya kesempatan untuk terus menulis. Meski kelak aku mengalami kegagalan terberat dalam hidupku dan mengalami kesedihan yang luar biasa membuatku ingin menyerah.
Bagaimana denganmu? Apa yang kamu ketahui mengenai menjadi seorang penulis?
Berlanjut ke pertanyaan kedua, “Bagaimana survive sebagai seorang penulis?” Menurut perspektifku yang bisa saja keliru, menjadi penulis dibutuhkan usaha yang ekstra. Pernah dengar maraknya buku bajakan dan karya yang diplagiat? Jujur saja, aku pernah membeli buku yang awalnya tidak tahu bahwa itu buku bajakan. Setelah berpindahnya buku tersebut ke tanganku, barulah aku penasaran mengapa ada perbedaan dengan buku-buku yang sudah kumiliki. Ya, persoalan buku bajakan dan plagiat karya sampai sekarang pun membuatku risau.
Selain itu, ada juga persoalan apakah menulis bisa mencukupi kebutuhan hidup? Mengingat aku pernah ditanya, “Apa yang bisa dihasilkan dari tulisan?”
Dari buku “Big Magic” karya Elizabeth Gilbert pada halaman 157, Elizabeth menceritakan bagaimana ia tetap mempertahankan pekerjaan purnawaktu ketika ia berlatih untuk menjadi seorang penulis. Barulah mengundurkan diri dari semua pekerjaannya setelah sudah menghasilkan karya keempatnya yang terkenal yaitu buku berjudul “Eat Pray Love.”
Masih dalam buku yang sama, Elizabeth juga menyampaikan pada halaman 158 bahwa, “Tuntutan financial bisa membawa tekanan pada inspirasi yang rapuh dan tak terduga sifatnya, kau harus cukup cerdas untuk membiayai kehidupanmu sendiri.”
Setelah membaca buku tersebut, aku seperti diingatkan agar tidak membebani kreativitasku untuk kemudian bisa menghasilkan uang. Karena seperti kata Elizabeth, “Adakalanya kau mengalami masa-masa mampu berkarya dan tidak mampu berkarya.”
Aku percaya, masing-masing penulis punya ceritanya sendiri dalam perjalanannya menjadi seorang penulis. Boleh banget ceritakan bagaimana perjalananmu dan kiat-kiat ketika merasa sedang tidak mampu berkarya. Tinggalkan di kolom komentar postingan ini, ya. Salam literasi!
Komentar