Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Bullying"

Seperti kita ketahui, bullying bisa terjadi di mana saja. Di lingkungan tempat tinggal, sekolah atau pun tempat umum. Dialog diri ini adalah memori tentang pengalamanku yang pernah terkena bully.

Sebagai murid baru untuk kesekian kalinya serta tidak kenal siapa-siapa, aku mendapati lagi situasi itu. Ya, canggung yang luar biasa. Hari pertama  di ruang kelas saat perkenalan diri, ada satu murid laki-laki meneriaki bagaimana bentuk gigiku.“Eh, itu liat giginya kayak hewan apa itu, ya.” Marmut! Kelinci!

Sejak saat itulah aku dipanggil dengan sebutan “Cicit” oleh teman-teman. Bentuk gigi yang tidak terpikirkan untuk diubah karena tidak memiliki dampak buruk apa pun bagi tubuh, membuatku menerima nama panggilan itu. Tanpa sadar diriku memendam pertanyaan dan pikiran yang bingung, “Emang salah, ya, punya gigi seperti ini?”

Sejujurnya butuh waktu serta upaya untuk berdamai dengan fisik yang sudah ada sejak dilahirkan, dikarenakan khawatir akan pandangan orang. Ke mana pun pergi kemudian bertemu orang baru, aku cemas bagaimana perspektif mereka.

Menerima Diri

Ada moment di usia 20-an ini, di mana aku mulai belajar menerima diri sendiri. Ya, dari bacaan serta saran orang-orang yang pernah aku minta pendapatnya. “Seperti apa pun kita, akan ada orang yang tidak menyukai kita.” Terima kasih, ya, untuk siapa saja yang sudah menguatkanku.

Selain diberi nama panggilan, aku ingat pernah ditendang kursi oleh murid perempuan yang entah sengaja atau tidak. Aku menerima perilakunya, herannya kejadian itu tidak pernah terlupakan. Aku berpendapat, “Mungkin ingatan ditendang kursi masih melekat dibenakku karena tidak tahu atas dasar apa ia melakukannya.”

Ya, aku memang tidak pernah cerita ke siapa pun dan tidak bertanya ke murid perempuan yang menendang. Meski saat itu kaki kiri begitu sakit terkena benturan.

Ketika ingatan buruk muncul, ada kalimat singkat yang menenangkan kerap kuucapkan kepada diri sendiri, “Hai, diriku di masa itu. Kamu tidak sendirian lagi. Terima kasih, ya, sudah kuat dan berusaha tidak merepotkan siapa-siapa.”

Aku tahu banyak jenis bullying yang bahkan bisa berakibat hilangnya nyawa. Oleh karena itu, melalui dialog ini, aku menghimbau agar berpikir berulang kali ketika hendak melakukan sesuatu. Aku juga turut prihatin jika sampai saat ini perilaku perundungan masih saja terjadi.

Akhir kata, banyak yang perlu aku benahi di usia dewasa muda. Perspektif mengenai Sang Pencipta, kehidupan, kematian, kendali diri, dan lain-lainnya. Aku menjadi paham, dibutuhkan proses ketika berdamai dengan diri sendiri dan tidak apa-apa jika sesekali pikiran negatif muncul.

“Dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing, aku percaya bisa berdamai seutuhnya. Meski lambat dan terasa berat.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...