Seperti kita ketahui, bullying bisa terjadi di mana saja. Di lingkungan tempat tinggal, sekolah atau pun tempat umum. Dialog diri ini adalah memori tentang pengalamanku yang pernah terkena bully.
Sebagai murid baru untuk kesekian kalinya serta tidak kenal siapa-siapa, aku mendapati lagi situasi itu. Ya, canggung yang luar biasa. Hari pertama di ruang kelas saat perkenalan diri, ada satu murid laki-laki meneriaki bagaimana bentuk gigiku.“Eh, itu liat giginya kayak hewan apa itu, ya.” Marmut! Kelinci!
Sejak saat itulah aku dipanggil dengan sebutan “Cicit” oleh teman-teman. Bentuk gigi yang tidak terpikirkan untuk diubah karena tidak memiliki dampak buruk apa pun bagi tubuh, membuatku menerima nama panggilan itu. Tanpa sadar diriku memendam pertanyaan dan pikiran yang bingung, “Emang salah, ya, punya gigi seperti ini?”
Sejujurnya butuh waktu serta upaya untuk berdamai dengan fisik yang sudah ada sejak dilahirkan, dikarenakan khawatir akan pandangan orang. Ke mana pun pergi kemudian bertemu orang baru, aku cemas bagaimana perspektif mereka.
Menerima
Diri
Ada moment di usia 20-an ini, di mana aku mulai belajar menerima diri sendiri. Ya, dari bacaan serta saran orang-orang yang pernah aku minta pendapatnya. “Seperti apa pun kita, akan ada orang yang tidak menyukai kita.” Terima kasih, ya, untuk siapa saja yang sudah menguatkanku.
Selain diberi nama panggilan, aku ingat pernah ditendang kursi oleh murid perempuan yang entah sengaja atau tidak. Aku menerima perilakunya, herannya kejadian itu tidak pernah terlupakan. Aku berpendapat, “Mungkin ingatan ditendang kursi masih melekat dibenakku karena tidak tahu atas dasar apa ia melakukannya.”
Ya, aku memang tidak pernah cerita ke siapa pun dan tidak bertanya ke murid perempuan yang menendang. Meski saat itu kaki kiri begitu sakit terkena benturan.
Ketika ingatan buruk muncul, ada kalimat singkat yang menenangkan kerap kuucapkan kepada diri sendiri, “Hai, diriku di masa itu. Kamu tidak sendirian lagi. Terima kasih, ya, sudah kuat dan berusaha tidak merepotkan siapa-siapa.”
Aku tahu banyak jenis bullying yang bahkan bisa berakibat hilangnya nyawa. Oleh karena itu, melalui dialog ini, aku menghimbau agar berpikir berulang kali ketika hendak melakukan sesuatu. Aku juga turut prihatin jika sampai saat ini perilaku perundungan masih saja terjadi.
Akhir kata, banyak yang perlu aku benahi di usia dewasa muda. Perspektif mengenai Sang Pencipta, kehidupan, kematian, kendali diri, dan lain-lainnya. Aku menjadi paham, dibutuhkan proses ketika berdamai dengan diri sendiri dan tidak apa-apa jika sesekali pikiran negatif muncul.
“Dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing, aku percaya bisa berdamai seutuhnya. Meski lambat dan terasa berat.”
Komentar