Terkurung dalam benak diri sendiri terasa sangat menyiksa. Tidak tahu bagaimana menerima kritikan dan saran membangun yang diberikan oleh orang lain. Seakan jika terdengar suara yang menyampaikan sesuatu, tak ada bedanya dengan tujuan untuk menyerang.
Cerpen: “Waktu untuk pulih” berasal dari bayangan yang berkecamuk. Saat itu dalam kegiatan berlibur ke sebuah pantai, aku merasakan sesuatu yang membuatku langsung menuliskannya pada sebuah buku bacaan. Ya, hanya ada buku tersebut yang ada di dalam tas yang aku gunakan.
Sudah siap menyelami bayangan tersebut? Baiklah, jika memang mempunyai keinginan untuk membacanya.
[Waktu Untuk Pulih]
Dari ketinggian tertentu di hadapan lautan luas dengan deburan ombak yang terdengar, aku membayangkan seseorang hendak melompat dengan tekad bulat.
Namun, ia mengurungkan niat karena adanya suara di benaknya yang bertanya, “Hanya sampai ini saja perjuanganmu? Jika jawabanmu adalah, iya, sungguh apakah kamu tidak melihat karang yang dihantam ombak berulangkali setiap harinya?”
“Ah, mengapa aku tidak berpikir seperti itu? Mengapa aku tidak mencoba menjadi sekuat karang? Yang diterpa ombak, akan tetapi begitu bermanfaat untuk pertumbuhan biota laut. Ombak yang terlihat menyeramkan bagi jiwa yang punya pengalaman tentangnya, ombak juga dapat membuat tenang pikiran,” ucapnya.
“Pejamkan matamu, pegang detak jantungmu. Rasakan perubahan yang tubuhmu alami”, kata suara itu.
Ada memori lamanya yang muncul kembali. Seolah terkubur pada sesuatu yang tidak diketahui keberadaannya. Memori lama yang menyimpan banyak sisi negatif.
“Apa yang sudah berlalu, tidak dapat kuubah saat ini atau pun esok hari. Yang dapat kulakukan sekarang adalah memperbaiki kesalahan dan mensyukuri segala kebaikan. Dari yang terpenting yakni diriku sendiri. Karena hanya aku seorang yang tahu apa yang aku alami, rasakan, dan pikirkan. Hidupku adalah tanggung jawabku. Tidak ada seorang pun yang berkewajiban bertanggung jawab untukku,” pikirnya.
BERSAMBUNG
Komentar