Langsung ke konten utama

Cerpen: "Waktu Untuk Pulih"

Terkurung dalam benak diri sendiri terasa sangat menyiksa. Tidak tahu bagaimana menerima kritikan dan  saran membangun yang diberikan oleh orang lain. Seakan jika terdengar suara yang menyampaikan sesuatu, tak ada bedanya dengan tujuan untuk menyerang.

Cerpen: “Waktu untuk pulih” berasal dari bayangan yang berkecamuk. Saat itu dalam kegiatan berlibur ke sebuah pantai, aku merasakan sesuatu yang membuatku langsung menuliskannya pada sebuah buku bacaan. Ya, hanya ada buku tersebut yang ada di dalam tas yang aku gunakan.

Sudah siap menyelami bayangan tersebut? Baiklah, jika memang mempunyai keinginan untuk membacanya.

[Waktu Untuk Pulih]

Dari ketinggian tertentu di hadapan lautan luas dengan deburan ombak yang terdengar, aku membayangkan seseorang hendak melompat dengan tekad bulat.

Namun, ia mengurungkan niat karena adanya suara di benaknya yang bertanya, “Hanya sampai ini saja perjuanganmu? Jika jawabanmu adalah, iya, sungguh apakah kamu tidak melihat karang yang dihantam ombak berulangkali setiap harinya?”

“Ah, mengapa aku tidak berpikir seperti itu? Mengapa aku tidak mencoba menjadi sekuat karang? Yang diterpa ombak, akan tetapi begitu bermanfaat untuk pertumbuhan biota laut. Ombak yang terlihat menyeramkan bagi jiwa yang punya pengalaman tentangnya, ombak juga dapat membuat tenang pikiran,” ucapnya.

“Pejamkan matamu, pegang detak jantungmu. Rasakan perubahan yang tubuhmu alami”, kata suara itu.

Ada memori lamanya yang muncul kembali. Seolah terkubur pada sesuatu yang tidak diketahui keberadaannya. Memori lama yang menyimpan banyak sisi negatif.

“Apa yang sudah berlalu, tidak dapat kuubah saat ini atau pun esok hari. Yang dapat kulakukan sekarang adalah memperbaiki kesalahan dan mensyukuri segala kebaikan. Dari yang terpenting yakni diriku sendiri. Karena hanya aku seorang yang tahu apa yang aku alami, rasakan, dan pikirkan. Hidupku adalah tanggung jawabku. Tidak ada seorang pun yang berkewajiban bertanggung jawab untukku,” pikirnya.

BERSAMBUNG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...