Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Tujuan Hidup"

Sering kali aku menanyakan kepada diri sendiri, “Apa tujuan hidupku?”

Tidak sampai disitu saja, pada waktu tertentu, aku juga bertanya kepada ibu mengenai tujuannya menikah, tujuan hidupnya saat masih lajang, dan bagaimana pengalaman ketika melahirkan anak. Ketika pertanyaanku dirasa kurang tepat dengan kondisi ibu, ada saja jawaban, “Waduh, berat nih kamu nanyanya.”

Ya, ibu kemungkinan tahu bahwa anaknya ini sedang di fase mencari jati diri. Seperti kataku,perjalanan diriku rasanya lebih lambat daripada kawan-kawan lainnya. Yang saat ini sudah meniti jalan kehidupan dengan lebih baik. (Mulai deh, aku membandingkan diri dengan yang lainnya)

Sudut Pandang

Sesekali ketika diri sedang down, aku lantas mencari bacaan mengenai perspektif orang-orang tentang kehidupan. Menemukan tujuan serta perjalanan hidup yang beragam. Ada yang memiliki tujuan hidup ingin berlibur ke suatu negara, menghasilkan karya, meraih cita-cita, membahagiakan orang tua, dan menjadi makhluk ciptaan yang senantiasa menyembah Sang Pencipta.

Kalau pun saat ini ada yang tidak memiliki tujuan hidup, rasanya itu adalah pilihan hidupnya. Boleh dikatakan aku juga belum memiliki tujuan hidup yang pasti. Cenderung bingung jika dihadapkan dengan pertanyaan tentang kehidupan. Oleh karena itu, aku berusaha terus mencari. Terlebih dahulu fokus menyelami diri sendiri.

Perjalananku untuk menyelami diri tidak terjadi begitu saja. Aku lebih dulu diberikan segala bentuk pembelajaran dari seseorang yang kurang dari setahun aku kenal. Ia mengatakan bahwa hidupnya tidak seperti hidupku. “Gue nggak punya jadwal yang pasti. Nggak punya list setiap waktu harus melakukan apa.”

Darinya, aku belajar bahwa manusia itu unik. Darinya, aku belajar untuk berani bersuara. Darinya, aku belajar bahwa tidak perlu menunggu dan meminta hormat orang lain agar bisa mencintai, menghormati atau pun menghargai diri sendiri. Sayangnya aku melakukan kesalahan. Sehingga hanya kurang dari satu tahunlah masa-masaku banyak belajar darinya.

Dalam Dialog Diri: “Tujuan hidup”, aku ingin mengingatkan diriku ketika kelak merasa begitu lelah dan mempertanyakan kembali untuk apa aku hidup. “Kamu tidak diharuskan memiliki tujuan hidup yang sama dari masa kecil hingga kelak tua, sebab banyak yang di luar kendali. Yang perlu kamu lakukan adalah fokus dengan yang ada dikendalimu serta mempercayai diri.”

Terima kasih untuk seseorang yang sudah hadir dalam hidupku, mengingatkan bahwa aku mesti belajar dan terus belajar melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...