Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

Dialog Diri: "Siapa Aku?"

“Aku mendengar beragam suara. Yang aku yakini sebagai diriku sendiri. Tapi di satu sisi, seperti ada sosok yang hilang. Tanpa disadari kepergiannya.” Dahulu sekali aku meyakini bahwa menjadi orang yang baik terhadap semua orang merupakan pilihan yang tepat. Sedih ketika tidak dapat membantu, selalu mengatakan setuju saat ada yang meminta bantuan, dan tidak mau merepotkan orang. Sehingga orang yang tak dikenal pun turut memanfaatkan kesempatan tersebut. Kini aku tersenyum jika mengingat diriku yang dulu. Dan semakin mengembang tatkala mendapati pertanyaan, “Siapa aku?” Bisakah kamu menjawab pertanyaan tersebut tanpa ada campuran dari pendapat orang lain tentang dirimu sendiri? Bisakah kamu menjawab pertanyaan tersebut tanpa ragu-ragu? Bisakah kamu meyakinkan dirimu sendiri seperti itulah dirimu? Siapa aku? Bisa menjadi kekhawatiran pagi, siang, sore, dan malam dikarenakan membayangkan orang-orang berpikir tentang diriku. Semakin ke sini, pertanyaan sesederhana itu mampu membua...

Dialog Diri: “Tentang Ketenangan"

Awal bulan Juni 2021, aku bersama dengan teman-teman berkunjung ke suatu pantai yang berlokasi di Banten Selatan. Masih teringat bagaimana deburan ombak yang terdengar, pasir berwarna putih, teriknya sang mentari, dan antusiasnya para pengunjung. Cukup membuatku merasakan seperti itulah suasana pantai. Aku mendengar suara ombak biasanya dari sebuah aplikasi musik meditasi yang bisa diunduh di Play Store. Pada malam hari mengistirahatkan tubuh sambil mendengarkannya dari telepon genggam. Dialog diri: “Tentang ketenangan” pada artikel kali ini berasal dari ingatanku yang begitu menyenangkan. Aku berdiri di tepi pantai melakukan butterfly hug . Metode memeluk diri tersebut disertai dengan udara sejuk, mata yang terpejam, dan deburan ombak membuatku tenang saat itu. Sayangnya aku tidak meminta untuk difoto ketika melakukannya. Bicara tentang ketenangan, pernahkah mendengar Serenity Prayer ? Aku mengenal doa tersebut dari buku berjudul “ Letting go : kekuatan tersembunyi sikap pasrah”...

Dialog Diri: "Perihal Memaafkan"

Kamu pernah bertemu seseorang yang dalam dirinya seperti membawa beban? Yang tak terlihat secara langsung, tapi terasa jika diamati dari perilaku dan ucapannya. Dari apa yang aku alami, beban tersebut ketika ditelusuri bisa berasal dari kejadian masa lalu, pikiran dan perasaan saat ini atau pun kekhawatiran akan masa depan. Beban itu juga bisa berasal dari diri yang belum memaafkan. “Memaafkan menciptakan ruang untuk cinta agar dapat menyelinap masuk. Untuk tujuan ini kita dapat mengubah penjaga gerbang hati kita menjadi pengawal yang sempurna, bebas dari semua gagasan yang ada sebelumnya dan dapat menjadi teman terbaik hati kita. Memaafkan yang sebenarnya bukan berarti melepaskan seseorang yang menyakitimu kehilangan utang karmanya, bukan juga membenarkan atau melupakan apa yang pernah ia lakukan .” (Guiditta Tornetta, Conversations with the womb ) Barangkali kalimat di atas bisa menjadi pengingat diriku akan arti memaafkan yang sesungguhnya. Mengingat aku pun pernah bertanya-tany...

Dialog Diri: Buku "Healing and Recovery"

Adakalanya waktu terasa begitu cepat, tapi disaat tertentu waktu begitu lama. Yang seperti ini hanya aku yang mengalami atau kalian juga? Sekian kali aku menundukkan diri dan lain waktu aku berkaca. Di hadapan cermin tersebut lantas aku berkata: “Hei, apa yang kau khawatirkan, kenapa susah tidur? Ini sudah larut malam.” Jika aku tahu jawaban dari pertanyaan tersebut, aku mungkin tahu mengapa siang begitu cepat serta malam terasa begitu lama. Padahal di kala gelaplah pikiran-pikiran itu berdatangan. Sampai suatu ketika ada bacaan yang menamparku dengan begitu lembutnya. Buku yang didapatkan dari kasih sayang Tuhan. “Penyesalan terhadap masa lalu dan ketakutan terhadap masa depan.” Sebuah kalimat yang ada di halaman 353 di buku “ Healing and recovery : jalan praktis dan efektif hidup sehat secara fisik, mental, dan spiritual” karya David R. Hawkins. Tidak ada yang tidak punya masa lalu, entah buruk atau pun baik. Ditambah dengan sudut pandang tiap orang berbeda, menjadikanku pa...

"Perjalanan Menulis Dan Mengenal Diri Sendiri", Artikel di Pustaka Bergerak

Ditulis tanggal : 20 Agustus 2020 Masih segar ingatan saya saat join ke beberapa grup di media sosial yang berkaitan dengan kepenulisan dengan semangat menggebu yang entah dari mana asal-usulnya. Tujuannya untuk mencari info lomba menulis yang sekiranya gratis. Padahal saya sendiri kerap berpikir, “Apakah saya benar-benar bisa menulis? Atau barangkali hanya keinginan semata!” Tapi siapa sangka bahwa semua diawali dengan satu kata yaitu, “Nekat.” Kalau saya tidak nekat join grup Facebook dan tidak pernah memberanikan diri untuk mengirimkan karya berupa cerpen, mungkin tidak tahu di mana letak salahnya. Mungkin tidak tahu bagaimana perjuangan penulis sehingga bisa memiliki karya berupa buku, tulisan yang dapat dibaca di media massa serta pada website pribadi yang begitu bermanfaat bagi para pembaca. Lalu bagaimana menikmati proses menulis. Berhenti Menulis Suatu hari terdengar beberapa kalimat yang membuat saya berhenti dari aktivitas menulis dan merasa tidak akan bisa menulis, lagi. Sep...

Membaca "Kembali Pulih" untuk Pembelajaran Diri

Bagian 1-2 Pernahkah mengalami perasaan ingin memaafkan seseorang, akan tetapi terkendala kenangan yang terus-menerus ada di ingatan? Mengalami luka emosional dari suatu hubungan di masa lalu maupun masa sekarang? Dalam buku Jackson Mackenzie berjudul “Kembali pulih: menyembuhkan hati dan menemukan kembali jati diri dari hubungan yang tak sehat dan luka emosional”, ada pembahasan-pembahasan dari pertanyaan di atas. Buku ini terdiri dari 4 bagian, diantaranya yakni bagian pertama membahas pedoman, bagian kedua membahas menganalisis pertahanan diri, bagian 3 tentang dekonstruksi diri yang melindungi, dan bagian keempat mengenai menyembuhkan luka mendalam. Di bagian pertama yang merupakan pedoman , Jackson menjelaskan bahwa tujuannya adalah menyelesaikan masalah dengan pendekatan psikologi klasik dan beberapa konsep alternatif: luka terdalam, pertahanan diri atau pemahaman diri yang salah, cinta, dan juga mindfulness. Pada bagian pedoman, penulis yang juga menuliskan buku berjudul...