Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Perihal Memaafkan"

Kamu pernah bertemu seseorang yang dalam dirinya seperti membawa beban? Yang tak terlihat secara langsung, tapi terasa jika diamati dari perilaku dan ucapannya.

Dari apa yang aku alami, beban tersebut ketika ditelusuri bisa berasal dari kejadian masa lalu, pikiran dan perasaan saat ini atau pun kekhawatiran akan masa depan. Beban itu juga bisa berasal dari diri yang belum memaafkan.

“Memaafkan menciptakan ruang untuk cinta agar dapat menyelinap masuk. Untuk tujuan ini kita dapat mengubah penjaga gerbang hati kita menjadi pengawal yang sempurna, bebas dari semua gagasan yang ada sebelumnya dan dapat menjadi teman terbaik hati kita. Memaafkan yang sebenarnya bukan berarti melepaskan seseorang yang menyakitimu kehilangan utang karmanya, bukan juga membenarkan atau melupakan apa yang pernah ia lakukan.” (Guiditta Tornetta, Conversations with the womb)

Barangkali kalimat di atas bisa menjadi pengingat diriku akan arti memaafkan yang sesungguhnya. Mengingat aku pun pernah bertanya-tanya seperti berikut ini:

“Diriku sudah belajar untuk memaafkan, tapi kenapa tak kunjung lupa akan kejadian-kejadian yang menurutku begitu menyakitkan?”

Barangkali aku terlalu keras dan memaksa hingga batasnya. Kesalahan yang belum semuanya termaafkan. Kesalahan yang berujung kemarahan terhadap diri sendiri. Terdengar membingungkan, bukan?

Dialog diri: "Perihal memaafkan” berasal dari refleksi diriku. Suatu hari di dapur tatkala membantu ibu. Aku duduk di lantai. Di hadapanku ada 3 bangku kayu tersusun rapi yang tingginya hanya 15 sampai 20 cm.

Kau tahu apa yang menurutku unik dari bangku itu? Benar, bangku tidak bisa bergerak jika tanpa adanya gaya. Sehingga bukan bangkunya yang berperan penting, tapi ada sesuatu.

Kucing kecil yang separuh tubuh depannya berwarna hitam dan bagian belakangnya berwarna cokelat, perlahan mendekatiku. Tak lama kemudian tubuhnya berbelok menuju bangku susun. Hiks, menggemaskan! Rupanya bukan aku yang dituju olehnya, mengingat ia memang terbiasa tidur di bangku mana pun yang sedang kosong.

Kaki mungilnya menaiki bangku satu per satu. Dengan ketenangan yang dapat terlihat dari bagaimana ia melangkahkan diri. Menatap lurus hingga tubuhnya merebahkan diri di bangku tersebut. Tanpa aba-aba apa pun, matanya lantas terpejam.

Aku membaca tingkah laku kucing tersebut.  Menyadarkan bahwa, “Hadapi saja satu per satu. Seperti proses memaafkan, meski waktu yang diperlukan tidaklah sebentar.”

Memang melelahkan, tapi jika tidak pernah selesai dengan prosesnya, tak memaafkan bisa berujung kepada kemarahan yang ditujukan kepada diri sendiri.

Terima kasih kucing kecil untuk pelajaran penting ini. 

Terima kasih diriku yang sudah mau belajar. Yuk, kita mulai memaafkan. Dimulai dari memaafkan diri sendiri yang mungkin saja sudah bersikap di luar batas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...