Kamu pernah bertemu seseorang yang dalam dirinya seperti membawa beban? Yang tak terlihat secara langsung, tapi terasa jika diamati dari perilaku dan ucapannya.
Dari apa yang aku alami, beban tersebut ketika ditelusuri bisa berasal dari kejadian masa lalu, pikiran dan perasaan saat ini atau pun kekhawatiran akan masa depan. Beban itu juga bisa berasal dari diri yang belum memaafkan.
“Memaafkan menciptakan ruang untuk cinta agar dapat
menyelinap masuk. Untuk tujuan ini kita dapat mengubah penjaga gerbang hati
kita menjadi pengawal yang sempurna, bebas dari semua gagasan yang ada
sebelumnya dan dapat menjadi teman terbaik hati kita. Memaafkan yang sebenarnya
bukan berarti melepaskan seseorang yang menyakitimu kehilangan utang karmanya,
bukan juga membenarkan atau melupakan apa yang pernah ia lakukan.”
(Guiditta Tornetta, Conversations with the womb)
Barangkali kalimat di atas bisa menjadi pengingat
diriku akan arti memaafkan yang sesungguhnya. Mengingat aku pun pernah
bertanya-tanya seperti berikut ini:
“Diriku sudah belajar untuk memaafkan, tapi kenapa
tak kunjung lupa akan kejadian-kejadian yang menurutku begitu menyakitkan?”
Barangkali aku terlalu keras dan memaksa hingga
batasnya. Kesalahan yang belum semuanya termaafkan. Kesalahan yang berujung
kemarahan terhadap diri sendiri. Terdengar membingungkan, bukan?
Dialog diri: "Perihal memaafkan” berasal dari
refleksi diriku. Suatu hari di dapur tatkala membantu ibu. Aku duduk di lantai.
Di hadapanku ada 3 bangku kayu tersusun rapi yang tingginya hanya 15 sampai 20
cm.
Kau tahu apa yang menurutku unik dari bangku itu?
Benar, bangku tidak bisa bergerak jika tanpa adanya gaya. Sehingga bukan
bangkunya yang berperan penting, tapi ada sesuatu.
Kucing kecil yang separuh tubuh depannya berwarna hitam
dan bagian belakangnya berwarna cokelat, perlahan mendekatiku. Tak lama
kemudian tubuhnya berbelok menuju bangku susun. Hiks, menggemaskan! Rupanya
bukan aku yang dituju olehnya, mengingat ia memang terbiasa tidur di bangku
mana pun yang sedang kosong.
Kaki mungilnya menaiki bangku satu per satu. Dengan
ketenangan yang dapat terlihat dari bagaimana ia melangkahkan diri. Menatap
lurus hingga tubuhnya merebahkan diri di bangku tersebut. Tanpa aba-aba apa
pun, matanya lantas terpejam.
Aku membaca tingkah laku kucing tersebut. Menyadarkan bahwa, “Hadapi saja satu per satu. Seperti proses memaafkan, meski waktu
yang diperlukan tidaklah sebentar.”
Memang melelahkan, tapi jika tidak pernah selesai
dengan prosesnya, tak memaafkan bisa berujung kepada kemarahan yang ditujukan
kepada diri sendiri.
Terima kasih kucing kecil untuk pelajaran penting ini.
Terima kasih diriku yang sudah mau belajar. Yuk, kita mulai memaafkan. Dimulai dari memaafkan diri sendiri yang mungkin saja sudah bersikap di luar batas.
Komentar