Langsung ke konten utama

"Perjalanan Menulis Dan Mengenal Diri Sendiri", Artikel di Pustaka Bergerak

Ditulis tanggal : 20 Agustus 2020

Masih segar ingatan saya saat join ke beberapa grup di media sosial yang berkaitan dengan kepenulisan dengan semangat menggebu yang entah dari mana asal-usulnya. Tujuannya untuk mencari info lomba menulis yang sekiranya gratis. Padahal saya sendiri kerap berpikir, “Apakah saya benar-benar bisa menulis? Atau barangkali hanya keinginan semata!”

Tapi siapa sangka bahwa semua diawali dengan satu kata yaitu, “Nekat.”

Kalau saya tidak nekat join grup Facebook dan tidak pernah memberanikan diri untuk mengirimkan karya berupa cerpen, mungkin tidak tahu di mana letak salahnya. Mungkin tidak tahu bagaimana perjuangan penulis sehingga bisa memiliki karya berupa buku, tulisan yang dapat dibaca di media massa serta pada website pribadi yang begitu bermanfaat bagi para pembaca. Lalu bagaimana menikmati proses menulis.

Berhenti Menulis

Suatu hari terdengar beberapa kalimat yang membuat saya berhenti dari aktivitas menulis dan merasa tidak akan bisa menulis, lagi. Seperti pergolakan batin, kalimat tersebut terus teringat dan seolah sudah tertanam di pikiran.

Tapi rupanya setahun kemudian ada yang memposting mengenai perlombaan menulis esai. Bagi saya itu adalah tantangan. Di lain sisi, saya jatuh-bangun memantapkan hati dan pikiran untuk bisa menyingkirkan sejenak kalimat yang pernah begitu menyakitkan.

Saya mengetik tulisan sederhana ini di ruangan yang sama pada saat mengetik dan mengirimkan naskah karya esai. Sebuah karya yang saat itu mengembalikan semangat untuk bisa menulis. Ada satu kalimat dari juri perlombaan pada saat pengumuman pemenang yang teringat hingga kini, “Saya harap para pemenang terus semangat menghasilkan karya, tidak berhenti sampai pencapaian saat ini saja.”

Ucapan juri mengingatkan saya kepada sosok saya yang dulu. Mengikuti perlombaan menulis cerpen, kemudian tidak berhasil menjadi pemenang. Menulis cerpen lagi dengan tema yang berbeda dan ternyata tetap tidak berhasil. Beberapa tahun kemudian barulah berhasil menjadi pemenang, bukan dalam perlombaan menulis cerpen. Justru menang dalam lomba menulis esai yang sebenarnya pernah begitu sulit saya pahami.

Refleksi Diri

Ketika saya memutuskan untuk tidak menulis karena mendengar dan mempercayai ucapan yang menyakitkan, sejujurnya saya sedang menjauhkan diri dari pintu keberhasilan. Di mana saat itu tidak benar-benar membuktikkan bahwa saya bisa dan tidak berpikir mengenai setiap manusia yang memiliki peluang berbuat salah. Atau bisa jadi saya ini tidak melakukan kesalahan, hanya sudut pandangnya saja yang berbeda.

Saya berambisi untuk menulis, menulis, dan menulis tetapi tanpa tujuan yang jelas. Tanpa mengenal siapa diri saya yang sesungguhnya. Untuk apa saya berkarya dan akan menjadi seperti apa di hari berikutnya.

Satu tahun. Sebuah penyesalan selama satu tahun di mana saya tidak menjadi diri saya sendiri.

Oktober 2019, setelah berhasil dalam perlombaan menulis esai, saya menyadari adanya kesempatan yang sama dengan orang-orang yang sedang semangat berkarya. Saya menyusun target berikutnya yakni belajar menulis artikel dengan catatan penting berikut ini:

  • Tidak Patah Semangat

Saya belajar menulis artikel dari sebuah perlombaan menulis artikel. Ya, dugaanmu benar! Saya tidak berhasil menjadi pemenang pada perlombaan artikel pertama kali dan kesekian kalinya. Dari ketidakberhasilan justru mengatarkan saya kepada sebuah keberhasilan di perlombaan-perlombaan berikutnya. Bisa dikatakan bahwa saya mencoba untuk tidak patah semangat dan tetap percaya diri.

  • Mencaritahu Peluang Keberhasilan

Saya ingin mengingatkan diri sendiri ketika kelak membaca kembali tulisan ini, “Selalu ada peluang ketika mau berusaha dengan sungguh-sungguh.” Nah, dalam mencaritahu peluang keberhasilan, cara saya adalah dengan mengamati seperti apa artikel penulis lainnya yang berhasil. Tulisan seperti apa yang bisa berpeluang dilirik oleh editor. Berapa kali dalam sebulan saya bisa menulis. Kemudian mulai belajar mengendapkan tulisan sehingga tidak menulis sambil mengedit.

  • Menghargai dan Menjalani Prosesnya

Selalu saya katakan kepada diri ini, “Kita sedang berproses.” Seorang profesional adalah seorang pemula pada masanya. Bagaimana saya bisa menjadi seorang profesional jika tidak menghargai dan menjalani proses sebagai seorang pemula?

Terima kasih untuk siapa saja yang tidak berhenti menulis. Barangkali pernah ada kalimat dari tulisan para penulislah yang membuat saya kembali menulis, lagi. Salam literasi! 

Artikel sudah ditayangkan di https://pustakabergerak.id/artikel/perjalanan-menulis-dan-mengenal-diri-sendiri-1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...