Langsung ke konten utama

Dialog Diri: "Siapa Aku?"

“Aku mendengar beragam suara. Yang aku yakini sebagai diriku sendiri. Tapi di satu sisi, seperti ada sosok yang hilang. Tanpa disadari kepergiannya.”

Dahulu sekali aku meyakini bahwa menjadi orang yang baik terhadap semua orang merupakan pilihan yang tepat. Sedih ketika tidak dapat membantu, selalu mengatakan setuju saat ada yang meminta bantuan, dan tidak mau merepotkan orang.

Sehingga orang yang tak dikenal pun turut memanfaatkan kesempatan tersebut. Kini aku tersenyum jika mengingat diriku yang dulu. Dan semakin mengembang tatkala mendapati pertanyaan, “Siapa aku?”

Bisakah kamu menjawab pertanyaan tersebut tanpa ada campuran dari pendapat orang lain tentang dirimu sendiri? Bisakah kamu menjawab pertanyaan tersebut tanpa ragu-ragu? Bisakah kamu meyakinkan dirimu sendiri seperti itulah dirimu?

Siapa aku? Bisa menjadi kekhawatiran pagi, siang, sore, dan malam dikarenakan membayangkan orang-orang berpikir tentang diriku.

Semakin ke sini, pertanyaan sesederhana itu mampu membuatku bingung. Pertanyaannya memang hanya dua kata, tapi belum tentu ucapanku mewakili jawabannya.

Ada masanya aku mulai belajar menerima siapa aku, ketika mengetahui pandangan orang lain tidak masuk dalam kendaliku. Perlu diingat juga bahwa pola pikir manusia bisa berubah. Pikiran dan perasaan hanya sementara.

Aku tidak ingin memaksakan diri untuk mendapati jawaban yang sempurna mengenai pertanyaan tersebut. Sadar bahwa jalan terjalku masih panjang. Aku tak diharuskan menjadi manusia yang sempurna untuk bisa menjawabnya. Cukup menjadi aku.

Sosok yang masih belajar memahami diri di segala keadaan, memeluk diri di kala butuh kekuatan, tersenyum ketika senang, dan memberi bantuan kepada orang lain saat aku yakin bahwa diriku mampu untuk membantu.

Bukan tanggung jawab orang lain untuk terus meyakinkan bahwa aku manusia yang berguna. Bukan tanggung jawab orang lain untuk terus ada di sisiku hingga diriku tak merasakan sepi. Itu adalah tanggung jawabku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...