Dahulu
sekali aku meyakini bahwa menjadi orang yang baik terhadap semua orang
merupakan pilihan yang tepat. Sedih ketika tidak dapat membantu, selalu
mengatakan setuju saat ada yang meminta bantuan, dan tidak mau merepotkan
orang.
Sehingga orang
yang tak dikenal pun turut memanfaatkan kesempatan tersebut. Kini aku tersenyum
jika mengingat diriku yang dulu. Dan semakin mengembang tatkala mendapati
pertanyaan, “Siapa aku?”
Bisakah kamu
menjawab pertanyaan tersebut tanpa ada campuran dari pendapat orang lain
tentang dirimu sendiri? Bisakah kamu menjawab pertanyaan tersebut tanpa
ragu-ragu? Bisakah kamu meyakinkan dirimu sendiri seperti itulah dirimu?
Siapa aku? Bisa
menjadi kekhawatiran pagi, siang, sore, dan malam dikarenakan membayangkan orang-orang
berpikir tentang diriku.
Semakin ke
sini, pertanyaan sesederhana itu mampu membuatku bingung. Pertanyaannya memang hanya
dua kata, tapi belum tentu ucapanku mewakili jawabannya.
Ada masanya
aku mulai belajar menerima siapa aku, ketika mengetahui pandangan orang lain
tidak masuk dalam kendaliku. Perlu diingat juga bahwa pola pikir manusia bisa
berubah. Pikiran dan perasaan hanya sementara.
Aku tidak
ingin memaksakan diri untuk mendapati jawaban yang sempurna mengenai pertanyaan
tersebut. Sadar bahwa jalan terjalku masih panjang. Aku tak diharuskan menjadi
manusia yang sempurna untuk bisa menjawabnya. Cukup menjadi aku.
Sosok yang
masih belajar memahami diri di segala keadaan, memeluk diri di kala butuh
kekuatan, tersenyum ketika senang, dan memberi bantuan kepada orang lain saat
aku yakin bahwa diriku mampu untuk membantu.
Bukan
tanggung jawab orang lain untuk terus meyakinkan bahwa aku manusia yang
berguna. Bukan tanggung jawab orang lain untuk terus ada di sisiku hingga
diriku tak merasakan sepi. Itu adalah tanggung jawabku sendiri.

Komentar