Langsung ke konten utama

Dialog Diri: “Tentang Ketenangan"

Awal bulan Juni 2021, aku bersama dengan teman-teman berkunjung ke suatu pantai yang berlokasi di Banten Selatan. Masih teringat bagaimana deburan ombak yang terdengar, pasir berwarna putih, teriknya sang mentari, dan antusiasnya para pengunjung. Cukup membuatku merasakan seperti itulah suasana pantai.

Aku mendengar suara ombak biasanya dari sebuah aplikasi musik meditasi yang bisa diunduh di Play Store. Pada malam hari mengistirahatkan tubuh sambil mendengarkannya dari telepon genggam.

Dialog diri: “Tentang ketenangan” pada artikel kali ini berasal dari ingatanku yang begitu menyenangkan. Aku berdiri di tepi pantai melakukan butterfly hug. Metode memeluk diri tersebut disertai dengan udara sejuk, mata yang terpejam, dan deburan ombak membuatku tenang saat itu. Sayangnya aku tidak meminta untuk difoto ketika melakukannya.

Bicara tentang ketenangan, pernahkah mendengar Serenity Prayer? Aku mengenal doa tersebut dari buku berjudul “Letting go: kekuatan tersembunyi sikap pasrah” karya David R. Hawkins pada halaman 114.

“Tuhan beri aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang mampu kuubah, dan kebijaksaan untuk memahami perbedaannya.”

Kalimat penenang tersebut sejalan dengan diriku yang sedang berproses mengenal, berdamai, dan menerima diri sendiri. Yang entah sampai kapan selesainya, sebab aku mendengar bahwa proses tersebut dijalani seumur hidup.

Ketika aku belajar mengenal diri, ada sisi yang selama ini aku hindari. Sisi yang kerap aku abaikan saat melakukan kesalahan besar maupun kecil. “Ini semua salahku. Andai saja tidak melakukannya”, ucapku kepada diri sendiri.

Atau kebiasaanku untuk berusaha bersikap sopan dan baik di hadapan orang lain, sedangkan jika respon yang kudapat terasa buruk, aku menjadi murung dan menyalahi diri terus-menerus. Betapa konyolnya diriku saat itu, padahal reaksi orang lain adalah di luar kendaliku, seberapa pun dekatnya hubungan kami.

Penerimaan

Aku tertarik membaca buku “Letting Go” dari semenjak mengikuti webinar tentang penerimaan diri. Pada saat itu pemateri mencantumkan buku laris tersebut sebagai referensi utama dan menjelaskan bagaimana ia mengaplikasikannya ke kehidupannya sehari-hari.

Pada cover belakang, aku mendapati penjelasan bahwa, “Hampir semua penyakit fisik dan mental disebabkan oleh emosi-emosi negatif yang terpendam di alam bawah sadar. Ketika emosi-emosi itu dilepaskan melalui sikap pasrah, kesembuhan pun terjadi dengan sendirinya.”

Jika membaca isi bukunya pada bagian mekanisme pelepasan, langkah awal yang bisa dilakukan yakni dengan membiarkan diri sendiri memiliki perasaan apa pun untuk kemudian melepaskannya. Pada poin ini, aku mengingatkan diriku untuk tidak melulu menyalahkan diri sendiri atas apa pun yang terjadi.

Sehingga mulai terbentuk habits melepaskan perasaan dengan cara berefleksi, menulis buku harian, menangis, tertawa, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Kalau memang sudah lelah, aku memilih untuk beristirahat.

Dari buku karya David R. Hawkins jugalah aku menjadi tahu bahwa tujuan utama manusia yang melampaui semua tujuan lainnya adalah bertahan hidup. Bisa jadi ketenangan yang kucari selama ini merupakan upayaku untuk bertahan hidup bahkan ketika pandemi masih terjadi hingga kini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...