Aku mendengar
suara ombak biasanya dari sebuah aplikasi musik meditasi yang bisa diunduh di
Play Store. Pada malam hari mengistirahatkan tubuh sambil mendengarkannya dari
telepon genggam.
Dialog diri:
“Tentang ketenangan” pada artikel kali ini berasal dari ingatanku yang begitu
menyenangkan. Aku berdiri di tepi pantai melakukan butterfly hug. Metode
memeluk diri tersebut disertai dengan udara sejuk, mata yang terpejam, dan
deburan ombak membuatku tenang saat itu. Sayangnya aku tidak meminta
untuk difoto ketika melakukannya.
Bicara tentang
ketenangan, pernahkah mendengar Serenity Prayer? Aku mengenal doa
tersebut dari buku berjudul “Letting go: kekuatan tersembunyi sikap
pasrah” karya David R. Hawkins pada halaman 114.
“Tuhan beri
aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak bisa kuubah, keberanian untuk
mengubah hal-hal yang mampu kuubah, dan kebijaksaan untuk memahami
perbedaannya.”
Kalimat penenang
tersebut sejalan dengan diriku yang sedang berproses mengenal, berdamai, dan menerima
diri sendiri. Yang entah sampai kapan selesainya, sebab aku mendengar bahwa
proses tersebut dijalani seumur hidup.
Ketika aku
belajar mengenal diri, ada sisi yang selama ini aku hindari. Sisi yang kerap
aku abaikan saat melakukan kesalahan besar maupun kecil. “Ini semua
salahku. Andai saja tidak melakukannya”, ucapku kepada diri sendiri.
Atau kebiasaanku
untuk berusaha bersikap sopan dan baik di hadapan orang lain, sedangkan jika
respon yang kudapat terasa buruk, aku menjadi murung dan menyalahi diri
terus-menerus. Betapa konyolnya diriku saat itu, padahal reaksi orang lain
adalah di luar kendaliku, seberapa pun dekatnya hubungan kami.
Penerimaan
Aku tertarik
membaca buku “Letting Go” dari semenjak mengikuti webinar tentang
penerimaan diri. Pada saat itu pemateri mencantumkan buku laris tersebut
sebagai referensi utama dan menjelaskan bagaimana ia mengaplikasikannya ke kehidupannya
sehari-hari.
Pada cover
belakang, aku mendapati penjelasan bahwa, “Hampir semua penyakit fisik dan
mental disebabkan oleh emosi-emosi negatif yang terpendam di alam bawah sadar. Ketika
emosi-emosi itu dilepaskan melalui sikap pasrah, kesembuhan pun terjadi dengan
sendirinya.”
Jika membaca
isi bukunya pada bagian mekanisme pelepasan, langkah awal yang bisa dilakukan
yakni dengan membiarkan diri sendiri memiliki perasaan apa pun untuk kemudian
melepaskannya. Pada poin ini, aku mengingatkan diriku untuk tidak melulu
menyalahkan diri sendiri atas apa pun yang terjadi.
Sehingga mulai
terbentuk habits melepaskan perasaan dengan cara berefleksi, menulis
buku harian, menangis, tertawa, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Kalau memang
sudah lelah, aku memilih untuk beristirahat.
Dari buku
karya David R. Hawkins jugalah aku menjadi tahu bahwa tujuan utama manusia yang
melampaui semua tujuan lainnya adalah bertahan hidup. Bisa jadi ketenangan yang
kucari selama ini merupakan upayaku untuk bertahan hidup bahkan ketika pandemi
masih terjadi hingga kini.

Komentar