Sekian
kali aku menundukkan diri dan lain waktu aku berkaca. Di hadapan cermin
tersebut lantas aku berkata:
“Hei,
apa yang kau khawatirkan, kenapa susah tidur? Ini sudah larut malam.”
Jika aku
tahu jawaban dari pertanyaan tersebut, aku mungkin tahu mengapa siang begitu
cepat serta malam terasa begitu lama. Padahal di kala gelaplah pikiran-pikiran
itu berdatangan. Sampai suatu ketika ada bacaan yang menamparku dengan begitu
lembutnya. Buku yang didapatkan dari kasih sayang Tuhan.
“Penyesalan
terhadap masa lalu dan ketakutan terhadap masa depan.” Sebuah kalimat yang ada
di halaman 353 di buku “Healing and recovery: jalan praktis dan efektif
hidup sehat secara fisik, mental, dan spiritual” karya David R. Hawkins.
Tidak
ada yang tidak punya masa lalu, entah buruk atau pun baik. Ditambah
dengan sudut pandang tiap orang berbeda, menjadikanku paham, “Apa yang
buruk bagiku, belum tentu itu buruk bagi yang lainnya. Apa yang baik bagiku,
belum tentu baik bagi yang lainnya.”
Penyesalan
dan rasa takut. Masa lalu dan masa depan. Lalu bagaimana dengan masa sekarang?
Aku
melanjutkan membacanya. Begitu banyak yang dibahas pada buku yang setebal
500-an, tapi bukan guyonan belaka. Sedikit yang baru kupahami bahwa isinya
membantu diriku menghadapi perasaan negatif. Kau tahu bagian yang aku sukai
dari buku itu? Ada pada halaman 288.
“Hanya
ada dua ekspresi emosi: cinta, yang dimulai dari level 500 dan menjadi tak
terbatas dalam ekspresinya, dan ketakutan, yang dimulai dari level 100 dan
terus turun dalam ekspresinya.”
Cinta
tak terbatas. Cinta bukan sekadar analogi sepasang kekasih, begitu luas
maknanya. Barangkali pemahamanku pun belum mampu menjangkau kulitnya.
“Tidurlah,
saat ini lebih penting!” kata seseorang di cermin.
Ia
mengingatkan bahwa aku tak perlu begitu memusingkan diri dan begitu larut akan
masa yang sudah berlalu maupun masa yang belum terjadi.
Dialogku
masih berlangsung. Ada beragam yang hendak kubagikan menjadi cerita pada blog
ini. Sudah siapkah kamu membacanya? Oh ya, selamat datang di dialog pertamaku.
Kita berjumpa pada dialog selanjutnya!

Komentar