Langsung ke konten utama

Review Novel "Sementara, Selamanya"

Mari berkenalan dengan novel “Sementara, Selamanya” yang merupakan skrip dari sebuah miniseries karya Ika Natassa. Penulis Indonesia yang sudah menulis berbagai buku.

Dengan 80 halaman utama serta beberapa halaman tambahan, aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk selesai membacanya. Namun, karena aku tidak menduga seperti apa endingnya, masih saja terbawa perasaan.

Dalam cerita, aku mendapati ada 2 tokoh utama serta 2 tokoh pendukung. Jika diingat-ingat, perkiraanku meleset. Pada awalnya aku memperkirakan bahwa tokoh utama berstatus pacaran. Namun, ternyata tokoh utama merupakan suami-istri bernama Saka dan Zara. Tokoh pendukung yaitu ibunya Saka dan Mbok Sri.

Selama pandemi, apa kamu pernah mengetahui ada karya terbaru dari penulis favoritmu? Novel “Sementara, Selamanya” mengambil latar suasana pandemi serta diterbitkan saat pandemi lho. Atau kamu adalah pejuang LDR? Saka dan Zara adalah suami-istri yang akhirnya merasakan seperti apa LDR saat pandemi belum berakhir

Dari dialog antartokoh, nampak bagaimana Saka dan Zara berupaya menjalin komunikasi yang baik. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, mereka menggunakan layanan video call sebagai media untuk menyampaikan perasaan, aktivitas sehari-hari, dan apa yang akan mereka lakukan.

Pada beberapa halamannya, terdapat quote yang menyentuh. Quote favoritku ada di halaman 42 yakni, “Tidak semua masalah harus selesai hari ini. Tidak semua pertanyaan harus terjawab hari ini.”

LDR tidak hanya antara suami-istri, menurutku tinggal jauh dari kedua orang tua juga termasuk ke dalamnya. Sebagai seseorang yang pernah tinggal jauh dari orang tua, aku teringat kembali bagaimana rindu hanya mampu disampaikan melalui kata-kata. Nah, rindu antara Saka dan Zara terasa dari bagaimana mereka mengulang ingatan tentang pertama kali bertemu, percakapan mereka saat masih tinggal bersama, dan rencana memiliki anak.

Sebagaimana hidup yang tidak hanya ada kegembiraan saja, Saka dan Zara pun mengalami kejadian yang membuat mereka bertengkar dan ada juga kesedihan yang mendera. Terima kasih Kak Ika Natassa yang sudah menambahkan pelajaran hidup dalam novel ini. Dari apa yang dialami oleh Saka dan Zara, aku menyadari dibutuhkan proses untuk dapat menerima kenyataan hidup.  

Oh ya, kamu baru mau memulai membaca novel atau lagi mau baca novel yang menyentuh perasaan? Jangan lupa tambahkan novel “Sementara, Selamanya” dalam wishlist bacaanmu, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...