Langsung ke konten utama

Rezeki Itu Berupa Buku

Rezeki itu berupa buku. Mengingat Kang Maman dalam bukunya menulis, “Pepatah Arab mengatakan bahwa sebaik-baik teman duduk adalah kitab atau buku.” Bagiku, sebaik-baik hadiah adalah buku bacaan yang memberikan kebaikan untuk refleksi diri.

Rezeki itu berupa buku. Dalam waktu berdekatan, ada kesenangan yang terjadi dalam hidupku. Mendapatkan 3 buku dalam moment yang berbeda. Buku pertama berjudul “Rich Dad Poor Dad” karya Robert T. Kiyosaki, buku kedua berjudul “Aku Menulis Maka Aku Ada” karya Maman Suherman, dan buku ketiga berjudul “Ensiklopedia Muslimah Reformis: Pokok-Pokok Pemikiran untuk Reinterpretasi dan Aksi” karya Musdah Mulia.

Dari mengetahui judul serta para penulisnya, tentu saja ketiga buku tersebut berisi pembahasan yang berbeda-beda. Buku karya Robert T. Kiyosaki membahas tentang business/management, buku karya Kang Maman membahas tentang pengalamannya dalam dunia menulis, dan buku karya Prof.Dr. Musdah Mulia, M.A berisikan pembahasan tentang muslimah reformis.

Semua buku yang kusebutkan di atas adalah buku-buku yang sebelumnya pernah kudengar, kulihat melalui media sosial Instagram serta pernah diniatkan untuk membelinya. Namun, sama halnya seperti yang lain, keperluan mendesak kerap membuatku memprioritaskan yang benar-benar kubutuhkan dalam waktu dekat.

Tidak mengherankan ketika buku datang, aku langsung membacanya. Perlahan-lahan untuk menemukan inti dari buku-buku tersebut. Sebagai informasi kecil, aku sudah memberikan banyak penanda berupa kalimat yang menggugah diriku untuk lanjut membaca di 2 buku yang datang pada tanggal 7 Agustus 2021 dan tanggal 10 Agustus 2021.

Buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki

Judul Buku: Rich Dad Poor Dad

Penerbit: Gramedia

Harga: Rp 68.000,-

Tebal: 240 halaman

Aku bertanya-tanya mengapa ada Ayah Kaya dan Ayah Miskin sedari awal membaca judul buku ini. Ketika menyelaminya barulah aku paham apa yang dimaksud dari nama-nama panggilan tersebut. Ayah Kaya adalah ayahnya Mike yang memberikan pengalaman hidup berharga mengenai keuangan kepada Robert serta Mike. Kemudian, yang disebut Ayah Miskin adalah ayah kandung Robert.

Selama membaca hingga pertengahan buku, aku menyadari adanya perbedaan pola pikir antara Ayah Kaya dan Ayah Miskin. Di antaranya tentang pendidikan, aset, dan bagaimana mengelola keuangan. Dalam buku ini juga menjelaskan mengenai ungkapan “Balap Tikus.” Tidak lupa sebagai buku yang membahas keuangan, di beberapa halamannya ada bagan berupa laporan penghasilan dan neraca.

Mengenai gaya bahasa, buku karya Robert ini dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami sekali pun dibaca olehku yang begitu awam dengan dunia business/management. Sebagai gambaran mengenai apa yang dibahas dalam buku yang terdiri dari 9 bab, aku cantumkan beberapa kalimat pada halamana tertentu yang menurutku penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Uang adalah satu bentuk kekuatan. Namun, yang lebih kuat adalah pendidikan keuangan.” Hal 8.

“Tidak punya uang seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak belajar.” Hal 169.

“Kalau Anda tidak bisa mengendalikan diri Anda sendiri, jangan coba-coba menjadi kaya.” Hal 175.

Buku Aku Menulis Maka Aku Ada karya Maman Suherman

Judul Buku: Aku Menulis Maka Aku Ada

Penerbit: Diva Press

Harga: Rp 120.000,-

Tebal: 444 halaman

Siapa yang tidak kenal Kang Maman? Seorang notulen dengan ciri khasnya sendiri yang kerap kita lihat dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK). Ini merupakan buku karyanya ke-24. Buku “Aku Menulis Maka Aku Ada” berisikan pengalaman Kang Maman dalam dunia menulis sebagai jurnalis handal maupun penulis buku dengan rentang waktu yang tidaklah sebentar.

Terkadang saat membaca buku ini, muncul perasaan haru. Serta moment mengucapkan kalimat “Ohhhhh…”

Puisi-puisi karya Kang Maman juga dicantumkan pada beberapa halaman. Ada puisi yang menjadi favoritku yakni puisi berjudul “Bapak.”  Selain puisinya yang apik, pada halaman 272 ada sebuah kalimat yang menjadi favoritku. “Karena menulis adalah menyusun apa yang “terbaca” dan menulis adalah membaca berulang-ulang. “

Ya, membaca dan menulis adalah 2 aktivitas yang saling berkesinambungan. Sama seperti tulisan ini, tidak akan ada jika sebelumnya aku tidak membaca. Oh ya, barangkali ketika selesai membaca buku karya Kang Maman ini, aku dapat memposting lebih lengkap mengenai dampaknya terhadap aktivitasku yakni membaca dan menulis.

Akhir kata, pernah membaca buku mengenai pengalaman para penulis dalam prosesnya menghasilkan karya? Jika tertarik membaca buku “Aku Menulis Maka Aku Ada”, maka jangan lupa menjadikannya sebagai bacaanmu berikutnya, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...