Sekian lama tidak menulis dialog diri, kini aku terinspirasi dari sebuah novel berjudul “Pulang-Pergi” karya Tere Liye. “Kita saling menghormati keputusan teman. Kau tidak suka keputusanku, tapi kau menghormatinya. Besok lusa, aku tidak setuju keputusanmu, aku akan menghormatinya dengan segenap darahku.”
Tepat di halaman 351, novel itu turut memberikan pemahaman baru kepadaku. Betapa banyak keputusan-keputusan orang yang pernah tidak kusetujui, akan tetapi secara langsung atau pun tidak langsung juga tidak kuhormati.
Misalnya, ketika seorang teman bercerita mengenai suatu pilihan untuk hidupnya sendiri. Mungkin sering kali ucapan, pikiran, dan tindakanku membuatnya tidak enak hati serta tidak enak pikiran. Padahal bisa saja teman bercerita agar aku tahu, agar pikirannya tenang, dan pada saat tertentu berkemungkinan untuk meminta saran kepadaku.
Membaca novel berjudul “Pulang-Pergi” yang berisikan mengenai pertarungan, membuatku sadar barangkali yang dibutuhkan seorang teman bukan saja aku yang siap sedia ketika dibutuhkan. Namun, bagaimana aku merespon apa yang dilakukannya.
Mengingat ada masanya aku fokus dengan rutinitasku, teman fokus dengan rutinitasnya masing-masing. Ada masanya teman membutuhkanku untuk urusannya dan boleh jadi besok lusa, aku yang membutuhkan temanku untuk urusan tertentu.
Terima kasih kuucapkan teruntuk karya Tere Liye berupa novel yang menjadi bacaanku dikala masih menjalani PPKM pada bulan Agustus 2021. Melalui novel tersebut, aku mencoba memahami bagaimana menjadi seorang teman yang sejati, salah satunya dengan cara saling menghormati.
Komentar