Usai libur sekolah tahun 2021, aku tidak lagi bertemu dengan seorang anak laki-laki yang bersalaman denganku tiap kali selesai belajar bersama. Kemudian meraih tanganku perlahan sambil berkata, “Terima kasih, Kakak.”
Ketika kuperhatikan saat belajar, sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia berusaha menyimpan kesedihannya dengan cara fokus mendengarkan penjelasanku. Suatu ketika pernah kutanya, “Apa yang membuatmu sedih, Dik?”
“Aku kangen sama ibu. Dulu aku tinggal bareng, sekarang jarang-jarang ketemu ibu”, jawabnya.
Pertemuan yang jarang tersebut tidak bertahan lama. Kembali satu atap bersama sang ibu. Senyumnya sumringah. Suatu hari kedua orang tuanya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.
Beberapa hari sebelumnya, ia meminjam buku komik koleksiku yang kerap diminatinya. “Kak, boleh ya aku pinjam komiknya?”
Menyadari entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya, kutulis kalimat singkat pada cover depan komik itu. Namun, sesingkat-singkatnya kalimat tersebut, hanya 4 kata yang melekat di benak. “Semangat, ya, belajar bacanya.”
Dan sedikit kalimat sebagai pengingat bahwa diusia sekarang pun, aku juga masih belajar. Sama seperti dirinya. Sebab boleh jadi aku yang belajar dari anak laki-laki itu.
Belajar tentang menyikapi kerinduan.
Belajar tentang kesopanan.
Kala itu hari terakhir bertemu, tepat sesampainya di rumah, aku mengingat-ingat apa kalimat yang kutulis. “Tadi kenapa nggak aku cantumin namaku, ya?”
Sisiku yang lain berkata, “Apalah arti sebuah nama, yang terpenting adalah kenangannya.”
Dik, terima kasih sudah hadir dalam hidupku melalui
pembelajaran sederhana selama beberapa bulan.
Malam ini melalui dialog diri, kutitip rindu.
Maaf, kuhanya beri buku komik itu dengan kalimat singkat untukmu.
Anak laki-laki yang meraih tanganku.
"Terima kasih, Kakak,” katamu.
“Terima kasih, Adik,” kataku.
“Kau tahu, Dik? Siapa yang tidak senang
diperlakukan dengan sopan?”
Kau memiliki itu. Kesopanan dan menghargai orang yang
berada disampingmu.
Salam rindu, 11 Agustus 2021.
Komentar