Langsung ke konten utama

Refleksi Diri Tentang Taman Baca

Hari ini perasaanku sedang campur aduk mengingat sebuah postingan tentang Taman Baca Garuda yang ada di daerah Cimahi. Ketika aku sedang bermain Instagram, scroll ke atas dan ke bawah, mataku tertuju kepada postingan Kitabisa.com yang menggambarkan seorang bapak berusia senja duduk di dekat rak buku.

Gambar tersebut semakin menyita perhatian, ketika captionnya aku baca secara tuntas. Deg! Rasanya campur aduk. Ada sedih, haru, dan sekelumit rasa lainnnya.

Aku pernah memenangkan juara menulis mengenai minat baca masyarakat. Aku merasa telah gagal dan bersalah, aku masih belum berkontribusi untuk lingkungan sekitarku. Aku seorang diri? Tidak, aku yang membuat diriku menjauh. Membentengi diri dengan pikiran buruk. Membuat orang yang mempercayaiku menjauh, aku terlalu takut untuk melakukan segala sesuatunya, padahal bisa saja aku mampu. Aku selalu melepaskan kesempatan yang ada di depan mata, namun sulit mengatakan tidak kepada sesuatu yang tidak aku sukai.

Pak TB seolah mengingatkanku akan realitas yang ada di dunia ini. Seberapa kuat aku berbeda dengan yang lainnya. Mungkin memang tidak terlihat orang-orang yang menyukai buku, memiliki minat baca yang bagus apalagi sosok pahalawan literasi, tapi mereka itu ada! Tetap ada!

Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku mengatasi ketakutan akan sebuah rencana?

Aku masih terus menjadi pengikut, ikuti keadaan dan situasi tanpa mau menjadi penggerak (pelopor). Aku masih saja bermental lemah, si lemah yang malu mengakui bahwa ia belum mencoba.

Aku masih saja takut gagal, padahal keberhasilan dan kegagalan hanya terpisah dengan kata “percobaan”, siapa yang tidak mencoba itu artinya dia telah gagal. Siapa yang berhasil itu artinya dia telah mencoba.

Aku harus segera beristirahat melepas penat pikiran, juga menyegarkan tubuh dari racun-racun yang mengalir sejak bangun pada hari kemarin.

Mari kita belajar lagi untuk mencintai diri sendiri,

Dariku untuk jiwa yang sehat.

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...