Sering kita mendengar
kata “dongeng” dalam sebuah lagu anak-anak dengan liriknya yakni “Dongeng sebelum
tidur” dan menjadi penasaran sebenarnya bagaimana cara melakukan kegiatan
mendongeng?
Berawal dari rasa
penasaran yang bisa jadi sama dengan para pembaca, saya memberanikan diri untuk mendaftar dalam sebuah kegiatan Workshop
mendongeng full praktik yang diadakan
oleh KLP (Komunitas Literasi Pasarkemis) pada tanggal 10 November 2019 bertempat di SMK Islam Iqro, Pasarkemis- Kab.Tangerang.
Menurut saya pribadi,
ini adalah kegiatan yang menarik apalagi dalam postingan kegiatan tersebut
diprioritaskan untuk Guru TK, Guru PAUD atau masyarakat umum yang berminat
menjadi pendongeng dengan tujuan untuk membudayakan mendongeng dan memasukannya
kepada metode belajar mengajar.
Pendongeng yang secara
sukarela mensedekahkan keterampilan yang ia miliki semakin menarik minat saya,
yakni Kang Budi Sabarudin atau dengan nama sapaannya Kang Budi Euy, seorang
pendongeng yang sudah 1500 kali pentas sejak tahun 2015.
Dalam sambutannya,
ketua pelaksana workshop yaitu Rifal
Ansori, ia menjelaskan bahwa KLP terdiri dari 7 komunitas literasi yang sudah
bahu-membahu agar kegiatan ini terlaksana. Rifal juga sempat menjelaskan
harapannya agar di Kabupaten Tangerang ada suatu wilayah yang menjadi lumbung
pendongeng dan nantinya akan terus melaksanakan sedekah dongeng di 29 kecamatan
hingga akhirnya impian untuk mengadakan festival dongeng benar-benar terwujud.
Sebuah impian yang
patut diapresiasi melalui dukungan kita ketika mendengar dampaknya yang baik
bagi lingkungan sekitar.
Workshop
full
praktik rasanya tidak lengkap ketika tanpa praktik para peserta. Saat sesi
praktik mendongeng berlangsung, peserta diajak untuk mengomentari peserta
lainnya. Saya sendiri menjadi peserta kedua yang maju dengan sangat banyak
kekurangan, pendek kata sekadar menyimak pengetahuan yang sudah Kang Budi Euy
berikan serta modal nekad saja.
“Seorang ahli dulunya
adalah pemula di bidangnya”. Agaknya saya sangat mempercayai hal tersebut
ketika melihat begitu percaya diri serta mahirnya Kang Budi Euy saat memberikan
wawasannya mengenai mendongeng. Para peserta pun mengabadikan moment berharga ketika Kang Budi menampilkan
dongeng karyanya yang berjudul "Perang Melawan Kerajaan Lalat."
Ada banyak pengetahuan
yang Kang Budi sampaikan yang tidak akan cukup jika ditulis dalam satu
kesempatan, namun pada intinya setelah mengikuti workshop ini pemahaman saya
mengenai dongeng bertambah.
(Kang Budi Euy saat menampilkan dongeng karyanya "Perang Melawan Kerajaan Lalat")
Mendongeng bisa
menggunakan properti sederhana seperti yang Kang Budi lakukan, contohnya adalah
ranting pohon, kantong plastik beraneka macam warna, botol plastik yang dicat,
kain hitam serta putih, alat musik berupa kendang dan kecrekan kecil, cangkir
aluminium juga alat lainnya yang dapat menarik perhatian anak-anak atau
audiens.
Properti yang terpajang di hadapan peserta bukan sekadar penghias saja, plastik berwarna diibaratkan sebagai sampah plastik yang sudah mencemari kali, sungai juga lautan dan kain hitam serta putih yang ada di bangku diibaratkan kekuasaan.
Properti yang terpajang di hadapan peserta bukan sekadar penghias saja, plastik berwarna diibaratkan sebagai sampah plastik yang sudah mencemari kali, sungai juga lautan dan kain hitam serta putih yang ada di bangku diibaratkan kekuasaan.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan yang telah Kang Budi jelaskan diawal workshop mengenai 5 kata kunci dasar pada diri manusia, diantaranya;
1. Alamiah
2. Natural
3. Spontan
4. Naluri
5. Bermain-main
Penasaran dengan 5 kata kunci dasar pada diri kita? Yuk, daftarkan dirimu menjadi peserta workshop di lain kesempatan. Siapa tahu kamu memiliki minat menjadi seorang pendongeng. Salam Literasi!


Komentar