Langsung ke konten utama

Perlombaan Menulis Esai PERPUSDA Banten

(Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba menulis esai di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten- Screenshot postingan Instagram M. Rifqi Ibnumasy)

Selama satu tahun lamanya aku berhenti menulis dan tidak ikut perlombaan apapun karena suatu hal. Namun hidup terasa hampa. Tak ada aku yang begitu antusiasnya mengikuti perlombaan. Hari bertambah, satu tahun itu telah berlalu. Aku memberanikan diri mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten yang berlokasi di Kota Serang dengan tema perlombaan menulis esai yakni “Membangun generasi Banten kreatif; literasi untuk kesejahteraan” tingkat mahasiswa tahun 2019.

Aku mengirim naskah pertama dengan total 5 halaman melalui email, kemudian merasa kurang puas dengan apa yang sudah dituliskan. Hingga pada akhirnya aku mengirimkan naskah yang kedua setelah menemukan esai milik senior yang saat itu dituju untuk kompetisi sebagai perwakilan dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Citra Raya. Aku mengamati dan mempelajari bagaimana senior menuliskan esai. Menggunakan beberapa dokumentasi berupa foto kegiatan TBM disertai cerita yang mengalir untuk mengajak pembaca menyelami apa yang penulis alami.

Aku menggunakan dokumentasi berupa foto karyaku sendiri agar tidak menyamai apa yang seniorku tulis, aku bahkan hanya mempelajari inti penulisannya. Setelah acara selesai, pendiri TBM Citra Raya mengingatkanku untuk mengabari senior yang sekarang berdomisili di Lampung. Kalau saja tak ada karya senior yang tersimpan, mungkin aku masih belum dapat berjajar dengan penulis lainnya sambil memegang piala. Suatu keberuntungan yang sangat kebetulan. Terima kasih banyak untuk karyamu senior.

“Pengalaman adalah guru terbaik”, agaknya itulah yang aku tuliskan. Menuliskan apa saja yang telah aku lakukan saat aktif menjadi bagian dari TBM Citra Raya. Sejujurnya tulisan pemenang lainnya sangat bagus, aku bahkan tidak menyangka dapat berjajar memegang piala bersama mereka. Rasanya aku masih belum mampu hingga akhirnya aku gemetar saat foto bersama. 
 
Bagiku pemenang juara berapapun adalah bonus dan berkarya adalah tujuan utama meski aku sebenarnya sedang menabung untuk keperluan menyelesaikan kuliah serta mewujudkan impian lainnya. 

Tanggal 28 Oktober 2019 memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan memegang piala tidaklah menjadi angan-anganku sebelumnya. Aku menduduki sebuah bangku di ruangan yang telah disiapkan sebelum pembagian hadiah masih dengan nervous yang tak kunjung hilang. Ini kali pertama memenangkan perlombaan setelah berhenti menulis.

Pembagian hadiah telah dilakukan kemudian para juri menjelaskan keunggulan satu per satu pemenang setiap perlombaan. Aku merekam semua perkataan juri karena ingin terus belajar agar mampu menghasilkan karya kedua, ketiga hingga seterusnya tiada henti. Karyaku disebut, namaku turut terdengar. Salah satu juri perlombaan menulis esai mengatakan bahwa naskahku menggunakan bahasa yang sangat sederhana dengan berisikan refleksi diri selama aktif di TBM Citra Raya. Menarik dan dapat disandingkan dengan karya yang lainnya.

Juri juga memberi arahan bagaimana menulis esai dan mengapa ada peserta yang mengirim naskah dengan kaidah penulisan karya tulis ilmiah untuk kategori perlombaan tersebut. Yang dapat aku simpulkan bahwa esai dapat diposisikan sebagai karya tulis ilmiah objektif maupun sebagai karya yang subjektif-imajinatif. Tak lupa bagian terpenting dari acara ini yakni panitia pelaksana berharap agar para pemenang dapat terus menulis bahkan memiliki buku karya diri sendiri.

Pada bulan November nanti direncanakan akan diterbitkannya buku yang berisikan naskah para pemenang maupun peserta lainnya yang memenuhi syarat menulis cerpen maupun esai. Selamat menantikan, semoga aku tidak salah mendengar. Semoga di artikel berikutnya aku dapat menjelaskan apa yang juri katakan secara lengkap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...