12 Oktober merupakan peringatan Hari Museum Indonesia. Tanggal tersebut ditetapkan berdasarkan hasil Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama yang diselenggarakan pada tanggal 12-14 Oktober 1962 di Yogyakarta.
Kali ini, 12 Oktober 2018, Museum Negeri Banten, terletak di Jl. Brigjen KH. Syam’um turut memeriahkan dengan mengadakan berbagai acara yang dikemas menarik dengan berjumlah 50 peserta.
(Dok. Foto bersama saat selesai senam di depan Museum Negeri Banten)
Acara yang dilaksanakan diantaranya: Senam pagi bersama, Tour the Museum (Eskplor kawasan Museum Banten), Dialog interaktif bersama Kepala UPT Museum Banten, Launching film dokumenter “Jejak kejayaan Banten”, dan Pemberian doorprize souvenir Museum.
Acara pertama yakni berupa senam bersama dengan dipandu oleh instruktur senam dari Celebritas, dimulai sejak pukul 08.00 WIB bertempat di depan Gedung Museum Negeri Banten. Semua perserta ketika mendaftarkan diri via WhatsApp sudah diinstruksikan untuk menggunakan pakaian senam.
Berikutnya sekitar pukul 09.00 WIB, seluruh peserta dipandu oleh Kang Rival Firmansyah untuk mengikuti Tour the Museum dengan menjelaskan secara detail sejarah serta bangunan apa saja yang ada di sekitar Museum Negeri Banten.
(Dok. Tour Museum Banten saat penjelasan mengenai sejarah Museum Negeri Banten, oleh Kang Rival Firmansyah)
“Kawan-kawan seperti yang terlihat, bangunan Museum Negeri Banten bergaya Netherland yang mana didirikan pada tahun 1821 dan rampung pada tahun 1828, dirancang oleh arsitek bernama Horst”, ucapnya saat memulai Tour the Museum.
Kang Rival juga menjelaskan bahwa proses pembangunan pada masanya tidak berjalan mulus dikarenakan faktor biaya dan bahan-bahan. Tak lupa menjelaskan mengenai bangunan masa kolonial Belanda yang identik dengan pilar-pilar berjumlah genap dan tingginya bangunan. Hal tersebut dikarenakan untuk menyesuaikan iklim daerah asal para kolonial.
Peserta juga diajak menyusuri sebuah tempat bersejarah yang dikenal sebagai tempat dihukumnya orang-orang Indonesia, yang melakukan perlawanan pada masa kolonial Belanda. Ruangan tersebut terlihat seperti penjara yang berukuran 3x3 m dengan kapasitas 20-30 orang, namun dipaksakan untuk menampung 50-60 orang pada masanya.
Dikarenakan bukan termasuk dalam cagar budaya sehingga tempat hukuman bersejarah tersebut kondisinya tidak terawat. Pemandu juga sempat menyampaikan bahwa orang-orang Indonesia yang melawan hanya diberikan makan dua atau satu hari sekali saja. Makanan tersebut ditempatkan hanya dalam satu wadah untuk dimakan bersama-sama.
Tour dilanjutkan dengan penjelasan mengenai miniatur Prasasti Batu Munjul yang berada di depan pintu masuk Museum. Prasasti tersebut merupakan salah satu prasasti yang berasal dari kerjaan Tarumanagara yang ditemukan pada tahun 1947 di Desa Lebak Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang-Banten. Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Sansekerta setelah beberapa tahun ditemukan. Prasasti Batu Munjul yang asli berada di tepi Sungai Cidanghiyang bernama Prasasti Cidanghiyang.
(Dok. Kang Rival menjelaskan mengenai sejarah Prasasti Batu Munjul)
Prasasti Cidanghiyang berisikan sebuah puisi yang terdapat pujian dan pengangungan terhadap raja kerajaan Tarumanagara pada saat itu, yaitu Raja Purnawarman.
Setelah melihat-lihat Prasasti Batu Munjul, peserta diajak menuju ruangan “Orang Banten” yang berada di dalam Museum Negeri Banten. Di ruangan tersebut terdapat banyak foto berukuran besar yang merupakan perwakilan penduduk dari masing-masing wilayah yang ada di Banten dan di bawah foto tercantum pendapat mereka mengenai Banten.
(Dok. Ruangan Orang Banten)
Di samping ruangan Orang Banten, terdapat ruangan yang berisikan contoh tempat ibadah masing-masing agama yang berada di Banten, semua dalam keadaan sejajar. Kang Rival menjelaskan bahwa kesejajaran tersebut mengartikan keseimbangan pada masing-masing agama, yang mana di Banten masyarakatnya menjalankan kehidupan beragama dengan tenang dan damai.
Selanjutnya pukul 10:00 WIB, dialog interaktif bersama Kepala UPT Museum Banten yakni Bapak Tasrief Adrianto, M.Hum dengan tema: Museum Kebangaan Milenial. Di dalam dialog tersebut, ada beberapa peserta yang bertanya dan memberikan saran kepada Kepala UPT Museum Banten.
Diantaranya pertanyaan mengapa belum adanya foto para pahlawan Banten yang dapat menimbulkan rasa nasionalis para pengunjung Museum, dilanjutkan dengan saran agar diadakan jemput bola sehingga tidak hanya menunggu pengunjung untuk datang ke Museum, dan peserta berharap agar miniatur-miniatur yang ada di Museum Negeri Banten bisa bertambah.
Bapak Tasrief Adrianto merespon baik pertanyaan dan saran tersebut, ia menjelaskan bahwa mengenai foto Pahlawan yang terpenting adalah informasinya, karena sebenarnya Museum Negeri Banten sudah semaksimal mungkin untuk menyampaikan informasi mengenai Banten dan rasa nasionalis.
Berikutnya 10:30 WIB, yakni launching film dokumenter “Jejak kejayaan Banten”. Dalam film tersebut terdapat banyak penjelasan mengenai sejarah Banten, rencana pembangunan serta harapan untuk Banten.
Acara ditutup dengan foto bersama antara pengurus Museum Negeri Banten dan para peserta disertai pembuatan video singkat sebagai ucapan untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2018.
Kali ini, 12 Oktober 2018, Museum Negeri Banten, terletak di Jl. Brigjen KH. Syam’um turut memeriahkan dengan mengadakan berbagai acara yang dikemas menarik dengan berjumlah 50 peserta.
(Dok. Foto bersama saat selesai senam di depan Museum Negeri Banten)
Acara yang dilaksanakan diantaranya: Senam pagi bersama, Tour the Museum (Eskplor kawasan Museum Banten), Dialog interaktif bersama Kepala UPT Museum Banten, Launching film dokumenter “Jejak kejayaan Banten”, dan Pemberian doorprize souvenir Museum.
Acara pertama yakni berupa senam bersama dengan dipandu oleh instruktur senam dari Celebritas, dimulai sejak pukul 08.00 WIB bertempat di depan Gedung Museum Negeri Banten. Semua perserta ketika mendaftarkan diri via WhatsApp sudah diinstruksikan untuk menggunakan pakaian senam.
(Dok. Senam bersama di Museum Negeri Banten)
Berikutnya sekitar pukul 09.00 WIB, seluruh peserta dipandu oleh Kang Rival Firmansyah untuk mengikuti Tour the Museum dengan menjelaskan secara detail sejarah serta bangunan apa saja yang ada di sekitar Museum Negeri Banten.
(Dok. Tour Museum Banten saat penjelasan mengenai sejarah Museum Negeri Banten, oleh Kang Rival Firmansyah)
“Kawan-kawan seperti yang terlihat, bangunan Museum Negeri Banten bergaya Netherland yang mana didirikan pada tahun 1821 dan rampung pada tahun 1828, dirancang oleh arsitek bernama Horst”, ucapnya saat memulai Tour the Museum.
Kang Rival juga menjelaskan bahwa proses pembangunan pada masanya tidak berjalan mulus dikarenakan faktor biaya dan bahan-bahan. Tak lupa menjelaskan mengenai bangunan masa kolonial Belanda yang identik dengan pilar-pilar berjumlah genap dan tingginya bangunan. Hal tersebut dikarenakan untuk menyesuaikan iklim daerah asal para kolonial.
Peserta juga diajak menyusuri sebuah tempat bersejarah yang dikenal sebagai tempat dihukumnya orang-orang Indonesia, yang melakukan perlawanan pada masa kolonial Belanda. Ruangan tersebut terlihat seperti penjara yang berukuran 3x3 m dengan kapasitas 20-30 orang, namun dipaksakan untuk menampung 50-60 orang pada masanya.
Dikarenakan bukan termasuk dalam cagar budaya sehingga tempat hukuman bersejarah tersebut kondisinya tidak terawat. Pemandu juga sempat menyampaikan bahwa orang-orang Indonesia yang melawan hanya diberikan makan dua atau satu hari sekali saja. Makanan tersebut ditempatkan hanya dalam satu wadah untuk dimakan bersama-sama.
Tour dilanjutkan dengan penjelasan mengenai miniatur Prasasti Batu Munjul yang berada di depan pintu masuk Museum. Prasasti tersebut merupakan salah satu prasasti yang berasal dari kerjaan Tarumanagara yang ditemukan pada tahun 1947 di Desa Lebak Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang-Banten. Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Sansekerta setelah beberapa tahun ditemukan. Prasasti Batu Munjul yang asli berada di tepi Sungai Cidanghiyang bernama Prasasti Cidanghiyang.
(Dok. Kang Rival menjelaskan mengenai sejarah Prasasti Batu Munjul)
Prasasti Cidanghiyang berisikan sebuah puisi yang terdapat pujian dan pengangungan terhadap raja kerajaan Tarumanagara pada saat itu, yaitu Raja Purnawarman.
Setelah melihat-lihat Prasasti Batu Munjul, peserta diajak menuju ruangan “Orang Banten” yang berada di dalam Museum Negeri Banten. Di ruangan tersebut terdapat banyak foto berukuran besar yang merupakan perwakilan penduduk dari masing-masing wilayah yang ada di Banten dan di bawah foto tercantum pendapat mereka mengenai Banten.
(Dok. Ruangan Orang Banten)
Di samping ruangan Orang Banten, terdapat ruangan yang berisikan contoh tempat ibadah masing-masing agama yang berada di Banten, semua dalam keadaan sejajar. Kang Rival menjelaskan bahwa kesejajaran tersebut mengartikan keseimbangan pada masing-masing agama, yang mana di Banten masyarakatnya menjalankan kehidupan beragama dengan tenang dan damai.
Selanjutnya pukul 10:00 WIB, dialog interaktif bersama Kepala UPT Museum Banten yakni Bapak Tasrief Adrianto, M.Hum dengan tema: Museum Kebangaan Milenial. Di dalam dialog tersebut, ada beberapa peserta yang bertanya dan memberikan saran kepada Kepala UPT Museum Banten.
Diantaranya pertanyaan mengapa belum adanya foto para pahlawan Banten yang dapat menimbulkan rasa nasionalis para pengunjung Museum, dilanjutkan dengan saran agar diadakan jemput bola sehingga tidak hanya menunggu pengunjung untuk datang ke Museum, dan peserta berharap agar miniatur-miniatur yang ada di Museum Negeri Banten bisa bertambah.
Bapak Tasrief Adrianto merespon baik pertanyaan dan saran tersebut, ia menjelaskan bahwa mengenai foto Pahlawan yang terpenting adalah informasinya, karena sebenarnya Museum Negeri Banten sudah semaksimal mungkin untuk menyampaikan informasi mengenai Banten dan rasa nasionalis.
Berikutnya 10:30 WIB, yakni launching film dokumenter “Jejak kejayaan Banten”. Dalam film tersebut terdapat banyak penjelasan mengenai sejarah Banten, rencana pembangunan serta harapan untuk Banten.
Acara ditutup dengan foto bersama antara pengurus Museum Negeri Banten dan para peserta disertai pembuatan video singkat sebagai ucapan untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2018.





Komentar