(Dok. Narasumber: Bapak Hatim Ghazali)
Bagi sebagian orang, menulis menjadi hal yang membingungkan. Aku sendiri menyadari ada masanya menulis mengalami stagnan dalam waktu yang lama.
Jadi, apa yang aku lakukan untuk senantiasa mempunyai semangat menulis? Biasanya aku menjadi peserta lomba menulis, join seminar kepenulisan, dan terbiasa hadir pada acara bedah buku.
Baiklah, kali ini aku akan menceritakan pengalaman yang tidak mungkin terlupakan, yang mana sebenarnya dijalani dengan ketakutan. Takut melakukan kesalahan dan kurangnya gagasan.
Sudah siap membaca? Lanjutkan sampai selesai.
Tanggal 22 September 2018, aku ada diantara 38 peserta acara "Pelatihan Juru Bicara Pancasila" yang diadakan oleh KBI (Komunitas Bela Indonesia) berlokasi di Hotel Horison Altama Pandeglang.
Ini adalah hari kedua pelatihan tersebut dengan materi pelatihan menulis. Narasumbernya bernama Pak Hatim Ghazali, seorang penulis yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi karyanya.
Sejak SMA beliau sudah tekun menulis, saat kuliah semester 1 di Yogyakarta pun tulisannya sudah dimuat oleh media cetak (koran).
Lalu apa yang sobat peroleh dari pelatihan ini?
Aku teringat apa yang disampaikan oleh Pak Hatim, seperti inilah yang masih terngiang:
Bagi saya, menulis merupakan keterampilan. Ketika kita terus-menerus menulis, maka kita akan semakin terampil.
Sederhana? Jelas sangat sederhana yang diucapkannya.
Namun, aku menyadari bahwa itulah yang menjadi problem bagiku di dunia menulis.
Selanjutnya, narasumber pelatihan menulis kali ini menjelaskan bahwa kebiasaan kita adalah menunda-nunda. Padahal dengan menunda-nunda, menulis sering kali malah tidak terlaksana.
Tulislah meski hanya beberapa kata, tekunlah walaupun karya kita tidak seberapa.
Bukankah semuanya butuh proses?
Aku jadi teringat ucapan adik kelas di Komunitas Jurnalistik yang sejak beberapa bulan lalu sudah disahkan menjadi ketua Komunitas Jurnalistik.
Dia berkata:
Tulisan yang baik dilahirkan dari pembiasaan menulis yang biasa saja.
Jadi karya pertama, kedua, ketiga, keempat, dst hingga tercapailah karya terbaik yang bisa dinikmati khalayak ramai itu suatu proses panjang.
Seseorang tidak serta-merta bisa berjalan ketika masih balita. Perlu merangkak terlebih dahulu, memegang tembok atau benda lainnya untuk menjaga kestabilan tubuh ketika hendak berdiri, dan meminta bantuan. Hingga pada akhirnya sampailah pada suatu tujuan meski berjalannya masih merangkak.
Dalam pelatihan menulis ini yang totalnya 39 peserta, para peserta dibagi menjadi 12 kelompok dengan jumlah 3 orang disetiap kelompok. Masing-masing kelompok menulis sebuah karya penulisan kreatif dengan berjumlah 600 kata.
Ini adalah salah satu cara diriku untuk kembali semangat menulis.
Mencoba aktif dan tekun mengikuti pelatihan-pelatihan yang memungkinkan untuk bergabung.
Kobarkan semangat menulis!
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
(Pramoedya Ananta Toer)
Dalam pelatihan menulis ini yang totalnya 39 peserta, para peserta dibagi menjadi 12 kelompok dengan jumlah 3 orang disetiap kelompok. Masing-masing kelompok menulis sebuah karya penulisan kreatif dengan berjumlah 600 kata.
Ini adalah salah satu cara diriku untuk kembali semangat menulis.
Mencoba aktif dan tekun mengikuti pelatihan-pelatihan yang memungkinkan untuk bergabung.
Kobarkan semangat menulis!
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
(Pramoedya Ananta Toer)

Komentar