Langsung ke konten utama

Bedah Buku Elena di Perpusda Banten

                      (Dok. Sepenggal Kata Elena)

Guys, siapa yang sudah baca novel "Elena" karya Mbak Ellya Ningsih?
Elena adalah karya pertamanya Mbak Ellya yang diterbitkan oleh Penerbit KataDepan.

Pada kesempatan kali ini, Sobat menghadiri acara ngobrol bareng bersama penulis Elena dan Pimpinan redaksi Penerbit KataDepan sekaligus editor novel tersebut di Perpusda (Perpustakaan Daerah) Provinsi Banten, Sabtu (29/09/18).

Untuk 50 peserta pertama yang hadir mendapatkan novel "Elena". Karena Sobat berhati baik dan memang datang terlambat :D
Jadi Sobat mengalah saja ya, tak mengapa jika novelnya untuk yang datang lebih awal, hihihi.

Sobat terkejut ketika mengetahui asal-usul penerbitan novel ini *uwiw
Jadi gini, kamu tahu bagaimana sejarahnya Elena bisa diterbitkan dan sudah laris di Gramedia?
Elena merupakan cerita bersambung yang ditulis oleh Mbak Ellya di akun Facebooknya.

Jadi Mbak Ellya rajin menuliskan cerbung sampai dengan part 21, lalu pimred Penerbit KataDepan bernama Mbak Gita Romadhona tertarik dengan postingan-postingan Mbak Ellya yang begitu banyak disukai serta dikomentari oleh pengguna Facebook.
Mbak Gita menghubungi Mbak Ellya ketika cerbung tersebut sudah sampai pada part 21.

Ada beberapa hal yang membuat sobat tidak ingin beranjak dari tempat duduk saat itu, diantaranya karena yang menjadi moderator adalah Kak Hilal Ahmad (seseorang yang sudah Sobat anggap sebagai penulis kece), lalu asal-usul novel Elena, kemudian kehadiran Mbak Gita yang secara tidak langsung memberikan banyak wawasan kepada Sobat.

Perbincangan dibuka dengan penjelasan mengenai Elena oleh Mbak Ellya.

Novel Elena bercerita tentang perempuan yang mempunyai masa kelam. Sebenarnya Elena tokoh fiktif. Namun konflik di dalam cerita berupa kenyataan yang terjadi di sekitar kita.

Guys, untuk menghindari spoiler maka sobat tidak akan menceritakan secara lengkap isi dari novel Elena. Biar pembaca menikmati sendiri seperti apa kisah-kisah yang ada di novel Elena.

Berikutnya, Mbak Gita memberikan penjelasan kepada udiens mengenai kepenulisan.
Menurutnya; ketika mau menulis, terlebih dahulu kita mengetahui motivasi apa yang menjadikan kita ingin menulis.

Jika menulis hanya karena iseng, maka hasilnya pun berupa keisengan saja.

Kak Hilal memandu acara dengan sangat baik, Sobat jadi mengerti tanpa harus bertanya karena setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator sudah mewakili rasa ingin tahu Sobat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...