Halo bagaimana kabarmu pengunjung blogku?
Semoga keadaan baik-baik saja ya :)
Foto buku-buku yang terlihat hanya sedikit itu adalah koleksiku di Serang.
Kalau di Tangerang, alternatif terakhir buku-buku disimpan di lemari baju.
Karena di rumah belum punya rak buku :D
Bisa dilihat, buku masih dalam keadaan bagus, sebab 70% adalah buku baru yang dibeli di beberapa tempat dengan rentang waktu yang lumayan dekat.
Mari simak paparan berikutnya dari saya, semoga bermanfaat :)
Mengutip pernyataan dari Pak Iman Suligi (pemilik Kampoeng Batja daerah Jember): "Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku."
Di awal tahun 2018 sempat menyaksikan salah satu tayangan (lupa channel apa), sebenarnya cuma lagi iseng saja karena pada saat itu berita sedang tidak ada.
Tayangan tersebut menceritakan tentang Pak Iman Suligi yang merupakan pemilik Taman Baca Kampoeng Batja daerah Jember.
Karena sudah lumayan lama, sehingga saya lupa apa saja yang disuguhkan kepada penonton. Saya hanya menulis di note sebuah pesan yang bisa jadi motivasi untuk mengubah mindset.
"Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku."
Kalimat yang singkat, jelas, dan padat namun mampu membuat saya berpikir keras. Menjadikan saya tertegun sementara. Mengingatkan tentang tumpukan buku yang terkadang rapih-rapih saja di Serang maupun Tangerang.
Keajaiban sebuah kata. Ya, ajaibnya saya tersadar kalau saya sendiri salah mengartikan kegunaan perpustakaan.
Alangkah lebih baik ketika mempunyai buku maka dengan senang hati meminjamkan kepada teman-teman, walaupun saya sendiri sempat merasa kecewa akibat buku yang saya pinjamkan justru dicorat-coret. Mungkin maksudnya hanya untuk menandai kalimat-kalimat yang penting dengan sebuah stabilo yang warnanya sangat cerah, namun ingatlah bahwa itu buku milik orang lain.
Sejak saat itu, saya jadi sering was-was jika meminjamkan buku kepada siapa pun bahkan teman dekat atau sahabat. Khawatir buku jadi rusak, atau bahkan tidak dikembalikan (lupa/sengaja).
Karena kata ajaib itu, perlahan mindset saya berubah, saya menawarkan kepada tetangga jika ingin membaca bisa ke rumah, pilih-pilih sendiri buku yang ingin dibaca.
Walaupun baru diterapkan ke satu orang, namun dia sendiri membawa sekitar 5 buku bacaan dari daftar koleksi saya.
Perpustakaan Mini
Terbesit keinginan untuk mendirikan perpustakaan mini yang bisa dinikmati oleh lingkungan sekitar rumah, namun masih terkendala oleh diri sendiri. Diantaranya kurang tersedianya buku anak-anak, novel, buku nonfiksi. Kesimpulannya, koleksi buku masih kurang.
Lalu, saya sendiri terkadang bingung, mau diapakan buku yang saya punya? Buku-buku referensi semasa kuliah, novel, buku tentang aplikasi. Akhirnya buku tersebut diletakkan di suatu tempat untuk menunggu buku lainnya yang nantinya siap disatukan dalam sebuah tempat, yakni "Perpustakaan Mini"
Namun, saya menyadari minat baca di lingkungan saya lumayan rendah, saya tidak melihat anak-anak baca buku dalam bentuk buku cerita anak, komik, cerpen, dan novel.
Apakah mungkin saya yang sibuk?
Sehingga tidak pernah melihat aktivitas mereka. Mungkin mereka baca bukunya di dalam rumah atau lebih suka baca e-book :D
"Buku ada untuk dibaca, bukan hanya didiamkan saja"
(Selvy Arianti)
Adalah kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana seharusnya buku dipergunakan.
Semoga kita semakin bijak memaknai kegunaan perpustakaan dan buku yang ada di perpustakaan.


Komentar