Langsung ke konten utama

Generasi Terkini Biasakan Saring Sebelum Sharing!

Artikel Edukasi Damai


Perkembangan teknologi menjadikan segala hal terasa mudah untuk dilakukan, salah satunya ialah untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mendapatkan informasi. Sebelum mengenal internet, kita tahu bahwa segala hal membutuhkan waktu, seperti menyampaikan pesan melalui surat sebagai media penyampaian informasi yang memerlukan waktu lama agar surat sampai ke alamat yang dituju.

Pada zaman tersebut pada dasarnya manusia sudah bisa membaca dan menulis. Namun perlu diketahui, ketika membaca dan menulis tentunya kita perlu mengolah dan memahami informasi terlebih dahulu. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya kita terima begitu saja, kita perlu mewaspadai isi dari informasi tersebut agar tidak menimbulkan suatu hal yang menyimpang.

Informasi yang belum terbukti kebenarannya biasa kita sebut sebagai informasi hoax. Informasi ini sangat berbahaya jika terus-menerus dibiarkan dan sangat mudah dipublikasi melalui media. Kini budaya masyarakat telah bergeser dari mengirim surat menjadi kebutuhan manusia untuk mengakses media sosial setiap saat.

Jika ditelaah dari hasil survey yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada tahun 2017 maka dapat kita pahami bahwa pengguna internet terbanyak berdasarkan usia adalah yang berusia 19 sampai 34 tahun dengan total 49,52%. Dengan pengguna internet mencapai 143,26 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia 262 juta orang.

Dari informasi data tersebut sebaiknya kita sebagai generasi cerdas dunia maya dapat mengantisipasi diri terhadap informasi yang hoax. Maka hal-hal yang perlu kita lakukan ketika mendapatkan sebuah informasi adalah:

1. Ketahui Sumber Informasi
Jika mendapatkan informasi dari website atau berupa link, periksa alamat URL situs tersebut di dewanpers.or.id untuk memastikan apakah sudah terverifikasi sebagai institusi pers resmi oleh dewan pers. Jika menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

2. Open Mind Terhadap Semua Informasi
Terbuka lah terhadap semua informasi yang kita terima tetapi jangan telan mentah-mentah informasi tersebut

3. Jangan Mempublikasikan Jika Ragu
Setelah mengetahui sumber informasi akan tetapi masih ragu, akan lebih baik jika menunda mempublikasikan informasi tersebut sebelum terbukti kebenarannya karena tentunya kita tidak ingin menjadi penyebar hoax.

4. Berdiskusi
Berdiskusi juga dapat menambahkan wawasan, sehingga membuat kita semakin lebih waspada dengan informasi yang sedang beredar di masyarakat.

Sangat penting bagi kita di era sekarang untuk lebih memahami literasi, termasuk literasi media. Karena sebenarnya literasi media berusaha memberikan kesadaran kritis bagi khalayak umum ketika berhadapan dengan media.

Oleh karena itu, diharapkan agar kita mampu meminimalisir hoax yang semakin marak beredar di lingkungan sekitar kita untuk menciptakan kedamaian di dunia maya maupun dunia nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Air Panas Sangkanhurip Kuningan

Kali ini artikel berasal dari Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Di sana terdapat berbagai fasilitas yang bisa kamu dapati. Apa saja, ya? Yuk, lanjutkan bacanya. Taman Rekreasi Sangkanurip Alami berlokasi di Desa Sangkanurip, Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Yang mana fasilitas rekreasi tersebut terdiri dari kolam renang air panas alam, kolam renang air dingin, luncuran naga, kolam renang anak-anak, kolam renang balita, kamar mandi air panas, panggung hiburan, dan kios cinderamata. Dengan berbagai fasilitas tersebut, aku tidak perlu khawatir kocek terkuras habis karena biaya masuk hanya berkisar Rp 12.000,- untuk kategori dewasa dan ada juga Rp 10.000,- untuk kategori usia anak-anak. Sebelum mencoba menyelamkan diri di kolam renang air dingin, aku mencoba merendamkan diri di kolam renang air panas alam. Wah, jangan diragukan lagi deh panasnya! Ada salah satu pengunjung taman rekreasi yang mengatakan jika telur dicemplungkan ke dalam air panas itu pasti tidak menunggu waktu yang l...

"Dialog Diri: Mindset"

Budaya konsumtif yang dibahas di berbagai media sosial, membuatku mempertanyakan diri sendiri. “Apakah ketika aku hendak membeli barang, berdasarkan keinginan atau memang sedang dibutuhkan?” Misalnya, saat ada diskon buku sekian persen, dengan mempertimbangkan rak buku yang melampaui kapasitas penyimpanan, lantas aku memberhentikan sementara membeli buku. Kalau pun mau menambah buku bacaan, mesti yang aku butuhkan dalam waktu dekat. “Jika tidak tegas terhadap diriku sendiri, besar kemungkinan orang lain atau sesuatu di luar diri yang akan berperilaku seperti itu kepadaku. Besar kemungkinan itulah yang akan mengendalikanku.” Mengkonsumsi, memiliki, dan melakukan sesuatu tentunya boleh-boleh saja, asalkan tahu bahwa itu tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Bagaimana caranya tahu? Ikuti kata hati. Bicara budaya konsumtif, suatu hari aku menyaksikan sebuah tayangan di akun Youtube Telkomsel yang berjudul “ Poor Mindset vs Rich Mindset ” dengan menampilkan Desi Anwar beserta gag...

"Dialog Diri: Giveaway Buku"

Aku tertarik dengan kalimat dalam buku “Aku menulis maka aku ada” karya Maman Suherman pada halaman 104. Yang mana dikatakan bahwa bukan seberapa panjang kutipan yang kita buat, akan tetapi yang lebih penting adalah gagasan apa yang kita sampaikan. Menurutku, itu bisa diterapkan ke dalam giveaway yang sering kali aku ikuti. Ya, kemarin aku mengikuti giveaway di akun Twitter Kang Maman untuk mendapatkan buku “Re dan peRempaun.” Aku sampaikan apa alasan ingin membaca buku tersebut dengan teringat kalimat halaman 104. “Saya pilih buku Re dan peRempuan. Mau baca lebih lengkap kisah kehidupan Mbak Re: tuk pembelajaran diri. Melalui gaya penuturan Kang Maman yang informatif, menggelitik dan bikin saya   terisak. Mbak Re: terima kasih sdh hadir bersama kami #jnebukukopi.” Tidak disangka komentarku dalam giveaway tersebut di-retweet oleh Kang Maman. Kemudian berhasil memenangkan hadiah buku “Re dan peRempuan” beserta Kopi Menggairahkan yang juga sempat aku dapatkan sebelumnya di give...